Eksekusi hukum cambuk di depan umum (foto: Antaranews)
Seorang terpidana kasus perjudian menjalani hukuman cambuk di Masjid al-Taqwa, Desa Lhoong Raya, Bandar Raya, Banda Aceh, hari Kamis (24/3) kemarin.

Eksekusi hukuman tersebut dilakukan di hadapan masyarakat umum. Warga dan para juru warta bersama-sama menyorotkan lensa kamera miliknya untuk mengabadikan momen tersebut.

Dalam sebuah foto, pelaku tampak meringis kesakitan seusai hantaman bonggol rotan algojo mengenai punggungnya, dan akan berlanjut ke cambukan selanjutnya.

Mahkamah Syari'at setempat menjatuhkan vonis hukum cambuk kepada enam orang pelaku pelanggaran Syari'at Islam, empat orang diantaranya adalah kasus maisr (judi) dan dua orang kasus khalwat (berduaan dengan lawan jenis tidak halal) masing-masing mendapat jumlah cambukan sebanyak 5 hingga 17 kali.

Sejak perjanjian damai antara pemerintah pusat RI dan GAM di era presiden Susilo Bambang Yudoyono, melalui MoU, provinsi Nanggroe Aceh Darussalam memiliki hak otonomi khusus yang cukup luas, termasuk pengaplikasian Syari'at Islam dan adat masyarakat melalui Qanun Jinayat Aceh.

Hukum cambuk dan denda menjadi salah satu bentuk eksekusi yang lazim untuk berbagai pelanggaran Syari'at untuk kasus-kasus perbuatan maksiat dan pelanggaran moral umum, yaitu miras (khamr), judi (maisr) dan mesum (khalwat ).

Pemerintah setempat mengklaim bahwa sejak berlakunya hukuman Qanun, berbagai pelanggaran Syari'at dan norma berhasil ditekan.

Sedangkan hukuman yang dilakukan di tempat umum dimaksudkan untuk menimbulkan efek jera sekaligus pembelajaran bagi masyarakat umum.

Namun penerapan hukum cambuk di Aceh dikecam oleh para pegiat HAM dan Barat. Hukum cambuk dipandang sebagai hukuman yang primitif serta tidak manusiawi.

Pegiat HAM juga menilai bahwa hukum cambuk dalam Qanun Jinayat ini dapat mengkriminalisasi urusan-urusan yang sifatnya dianggap pribadi (mabuk miras, zina, judi, homoseks dll).

Hukum cambuk biasanya diterapkan oleh negara/wilayah yang cukup melekat prinsip Islam di masyarakatnya, untuk wilayah Asia Tenggara selain Aceh ada Malaysia dan Brunei.

Tetapi hukum cambuk juga tetap berlaku di salah satu negara sekuler termodern di Asia, yaitu Singapura.

Cambukan di Singapura adalah salah satu bentuk eksekusi warisan kolonial Inggris yang masih dipertahankan untuk ketertiban sipil setempat.

Hukuman ini dapat dijeratkan untuk berbagai pelanggaran maupun kejahatan kriminal. Cambuk di Singapura dapat diterapkan bersamaan dengan hukuman lain dan denda.

Cambuk bisa menyasar kasus pelecehan seksual, kebersihan, vandalisme fasilitas umum, ketertiban umum dan kasus pidana, hingga masalah imigrasi. Lembaga HAM seperti HRW melihat Singapura masih "konservatif" dalam menerapkan nilai timur dan kontrol kebebasan. (Antaranews/BBC Indonesia/HRW)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.