Warga kampung terpencil Afghanistan
Beberapa minggu setelah pasukan pemerintah Afghanistan menyatakan kemenangan atas militan ISIS di wilayah timur, para penduduk setempat menjelaskan kehidupan mereka saat di bawah kontrol pengikut al-Baghdadi.

Mereka mengaku hidup dalam ketakutan selama hampir satu tahun berada di bawah kekuasaan para militan ISIS.

Pada awal Maret lalu, Presiden Ashraf Ghani mengatakan bahwa Afghanistan akan menjadi "kuburan" bagi kelompok ISIS. Ghani juga mengumumkan pasukan Afghanistan telah merebut beberapa daerah di provinsi Nangarhar yang berbatasan dengan Pakistan dari para militan ISIS.

Menurut pejabat dan warga setempat, tentara Afghanistan dibantu penduduk berhasil memukul posisi para militan hingga sejauh 8 km dan merebut kembali 22 desa.

Beberapa distrik terpencil di sebelah timur negeri itu dilaporkan telah dikuasai cabang ISIS sejak setahun belakangan.

Kepada Al-Jazeera, penduduk setempat menjelaskan bahwa banyak sekolah yang ditutup sementara saat wilayah diduduki militan ISIS. Para militan juga memperingatkan para murid agar tidak mencoba menghadiri kelas.

Bahkan salah satu sekolah di distrik Achin, telah ditutup dan berubah menjadi markas bagi para militan.

"Mereka mengatakan kepada kami bahwa sekolah ini adalah bagian dari para murtad dan orang kafir, mereka mencegah kami untuk belajar", kata seorang murid bernama Ahmed Shinwari.

Menurut seorang warga bernama Akhond Zadgan, ada banyak tentara Afghanistan yang ditangkap dan kemudian digorok atau ditembak mati ketika pertempuran merebut wilayah itu.

Seorang nenek bernama Sabar Mira, mengatakan kepada Al Jazeera, bahwa dirinya telah kehilangan dua cucunya yang digorok dan ditembak oleh ISIS.

"Mereka mencincang cucu saya, Ali, dan memenggalnya. (lalu) Hakim ditembak mati. Sekarang saya merasa hancur. Anjing-Anjing itu membunuh mereka berdua", katanya.

Di desa lain juga dilaporkan terjadi hal serupa, dimana tentara Afghanistan yang tertangkap akan langsung digorok oleh algojo ISIS. Lalu kepalanya diletakkan di perut.

ISIS kemudian meninggalkan sebuah catatan di dekat tubuh itu agar dibiarkan selama beberapa waktu. Serta mengancam siapa saja akan dikenai dengan hukuman serupa jika melanggarnya.

Warga pesimis dengan pemerintah Afghanistan
Beberapa warga desa telah membentuk kelompok perlindungannya sendiri untuk menjaga distrik mereka dari ISIS. Mereka tidak percaya pasukan pemerintah akan melakukan hal diperlukan untuk melindungi mereka.

"Jika pemerintah melindungi kami, mereka (ISIS) tidak akan mampu merebut kembali daerah ini. Tapi jika pemerintah tidak membantu kami, ISIS bisa mengambilnya lagi besok", ujar Pir Mohammed, seorang tetua desa.

Tahun lalu, ISIS mengklaim telah menggorok beberapa orang etnis Hazara (banyak yang menganut Syi'ah, red) sehingga memicu protes massa mempertanyakan kemampuan pemerintah Kabul melindungi warga sipil.

Menurut John Campbell, mantan komandan AS dan NATO di Afghanistan, ada sekitar 1000 s/d 3000 militan ISIS di negeri itu.

Beberapa pejabat menyatakan bahwa sebagian besar militan yang setia pada ISIS adalah mantan anggota Taliban yang membelot dari kelompoknya.

Sedangkan menurut pendukung Taliban, para pembelot yang kemudian menjadi ISIS itu adalah orang-orang sejak awal berpaham Takfiri-Khawarij. Sehingga "Lalat akan mencari lokasi bangkai/kotoran berada".

Pada pertengahan tahun 2015, ISIS membunuh 2 komandan Taliban dan merilis fotonya. (Al-Jazeera/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.