Duta besar Arab Saudi untuk PBB, Abdullah al-Mouallimi, mengatakan negaranya akan mengubah sikap politik terhadap Lebanon jika pemerintah Beirut membuktikan mampu berdiri tanpa gangguan Hezbollah.

"Inilah hal mendasar untuk meninjau kebijakan Arab terhadap Lebanon.... Kerajaan tidak bisa menerima aktivitas teroris Hezbollah di kawasan", ujarnya.

Al-Mouallimi menjelaskan: "Kami memiliki ketertarikan dengan Lebanon, tetapi kami tidak bisa mentolerir aktivitas Hezbollah baik di dalam dan di luar Lebanon. Ketika kami melihat Lebanon telah mampu berdiri sendiri, kami akan mengubah kebijakan pada mereka".

Dalam kesempatan itu al-Mouallimi juga menyatakan keprihatinannya atas kondisi kemanusiaan yang memburuk di Yaman, walaupun menurutnya belum diperlukan lagi resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB untuk masalah itu.

Anggota DK PBB sedang membahas kemungkinan resolusi baru untuk ikut menangani masalah kemanusiaan. Al-Mouallimi menyatakan bahwa belum diperlukan intervensi Dewan Keamanan.

Arab Saudi dan beberapa negara Arab membentuk koalisi militer untuk membantu pemerintah sah Yaman dari pencaplokan pemberontak Syi'ah Houthi dan mantan diktator Abdullah Shaleh, sejak Maret 2015.

Perang Yaman telah membunuh 6000 orang, dimana separuhnya adalah warga sipil. Sebanyak 2,5 juta orang dilaporkan mengalami masalah kemanusiaan, termasuk 200 ribu warga Taiz yang dikepung Houthi. Barat menyalahkan kedua pihak yang berperang.

Sementara kelompok teroris Syi'ah Hezbollah baru-baru ini disebut oleh pemerintah presiden Mansour Hadi terlibat membantu pemberontakan Houthi. Hadi mengklaim memiliki bukti aktivitas ilegal tersebut. (Arabnews/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.