Pemakaman
Oleh Ustadz Anshari Taslim Lc.

Adanya fitnah kubur atau pertanyaan di alam barzakh sehingga berakibat adanya siksa dan kenikmatan yang bisa dirasakan orang di dalamnya merupakan keyakinan yang tetap dalam akidah Ahlus Sunnah wa Al-Jama’ah.

Namun, sebagian kelompok Mu’tazilah dan Khawarij tidak meyakini adanya hal ini lantaran dasar madzhab mereka yang rusak, yaitu hadits ahad tidak bisa dijadikan landasan dalam akidah. Akibatnya, mereka tidak percaya adanya fitnah atau azab kubur.

Dalam hal ini mereka jatuh dalam dua kesalahan. Pertama, teori bahwa hadits ahad tidak bisa dijadikan landasan dalam akidah tidaklah benar. Keyakinan Ahlus Sunnah menetapkan bahwa hadits ahad mulai dari yang masyhur, ’aziz sampai yang gharib sekalipun tetap bisa dijadikan landasan dalam keyakinan selama statusnya shahih atau hasan.

Kesalahan kedua adalah anggapan mereka bahwa hadits tentang azab kubur itu tidak mutawatir. Setelah diteliti lebih lanjut ternyata hadits-hadits yang menyebutkan adanya azab kubur mencapai jumlah mutawatir secara makna, meski tidak mutawatir secara redaksi.

Mengenal Hadits Mutawatir
Hadits mutawatir adalah hadits yang dirwayatkan oleh banyak orang atau banyak sanad, sehingga mustahil terjadi kelemahan atau kesalahan baik dalam redaksi maupun maknanya.

Hadits mutawatir itu sendiri ada dua:
1) Mutawatir lafzhi, yaitu yang redaksinya sama diriwayatkan dari banyak sanad dengan nara sumber sahabat Nabi saw yang beraneka ragam.
2) Mutawatir maknawi, redaksi dan pembahasannya berbeda tapi maknanya sama, misalnya tentang azab kubur ini. Meski diceritakan dalam berbagai topik, tapi semuanya menyebutkan adanya azab kubur. Itu namanya mutawatir maknawi dan kedudukannya dalam hukum atau akidah sama dengan mutawatir lafzhi.

Para ulama dan ahli hadits yang menegaskan bahwa hadits-hadits tentang azab kubur itu mutawatir:
1. Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr mengatakan, “Telah mutawatir datangnya atsar-atsar dari Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam tentang haudh (telaga) dan Ahlusunnah pendukung kebenaran -merekalah Al-Jamaah- mengimaninya dan membenarkannya. Demikian pula halnya dengan atsar-atsar tentang syafaat dan azab kubur, wal hamdulillaah.”

2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa juz 4, hal. 285 mengatakan, “Adapun hadits-hadits tentang azab kubur dan pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir adalah banyak dan mutawatir datangnya dari Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam.”

3. Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali mengatakan, “Telah mutawatir datangnya hadits-hadits tentang azab kubur dan mohon perlindungan darinya dari Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam.”

4. Ibnu Abi Al-Izz Al-Hanafi dalam kitabnya Syarh Aqidah Ath-Thahawiyyah mengatakan, “Telah mutatawatir datangnya khabar dari Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam tentang penetapan azab kubur dan nikmat kubur bagi siapa saja yang berhak mendapatkannya. Demikian pula pertanyaan dari dua malaikat, maka wajiblah mengimani hal tersebut dengan meyakini keberadaannya dan kita tidak membicarakan bagaimana bentuknya karena akal tidak mampu menjangkau gambarannya karena tidak ada contohnya di alam dunia ini.

5. Al-Allamah Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengatakan dalam kitab Ar-Ruh, “Adapun hadits-hadits tentang azab kubur dan pertanyaan dua malaikat Munkar dan Nakir adalah banyak, mutawatir dari Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam.”

6. Al-Hafizh As-Suyuthi dimana dia memasukkan hadits tentang pertanyaan kepada mayyit di dalam kubur sebagai hadits mutawatir, dan dia menyebutkan ada 27 orang yang meriwayatkan hadits tersebut.

7. Muhammad bin Thulun Ash-Shalihi, seorang ahli hadits dan sejarah murid As-Suyuthi dan juga seorang ahli hadits dalam kitabnya At-Tahrir Al-Murassakh fii Ahwal Al-Barzakh mengatakan, “Bab: Fitnah kubur dan pertanyaan dua malaikat. Telah mutawatir hadits tentang hal itu dari Anas, Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, Umar bin Al-Khaththab, Utsman bin Affan, ‘Amr bin Ash, Mu’adz bin Jabal, Abu Ad-Darda`, Abu Rafi’, Abu Sa’id Al-Khudri, Abu Qatadah, Abu Hurairah, Asma` dan Aisyah.”

8. Al-Allamah As-Saffarini berkata: “Beriman dengan siksa kubur hukumnya wajib dalam syariat karena telah shahih sejumlah hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam -yang ma’shum- yang mencapai derajat mutawatir”.

9. Al-Muhaddits Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam kitabnya Silsilatu Al-Ahadits Ash-Shahihah juz 1, hal. 295 mengatakan, “Ada banyak pelajaran dan kesimpulan dalam hadits-hadits ini, saya sebutkan beberapa yang terpenting antara lain, 1) penetapan adanya azab kubur dan hadits-hadits tentang hal itu adalah mutawatir sehingga tidak ada tempat buat ragu terutama bagi mereka yang beralasan bahwa hadits-hadits tentang hal ini adalah ahad…..”

Berikut hadits-hadits tentang adanya fitnah kubur:

1. Hadits Al-Bara` bin ‘Azib RA
a. Hadits tentang perjalanan menjelang ajal dan pertanyaan malaikat
Hadits ini sangat panjang terdapat dalam beberapa kitab induk. Versi ringkasnya terdapat dalam Shahih Al-Bukhari, no. 1369 dan dalam Shahih Muslim, no. 2781. Dalam riwayat Muslim Rasulullah SAW menyebutkan bahwa ayat dalam surah Ibrahim ayat 7, (ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ) (Allah menetapkan orang-orang yang beriman dengan jawaban yang teguh), ini turun berkenaan dengan azab kubur.”

Versi detil hadits Al-Bara` disebutkan antara lain dalam Sunan Abi Daud, Sunan Ibnu Majah, Sunan An-Nasa`i, Musnad Ahmad, Al-Mustadrak karya Al-Hakim dan lain-lain. Sudah kami sebutkan terjemahan lengkapnya yang dirangkum dari beberapa riwayat berdasarkan tulisan Syekh Al-Albani dalam kitab Ahkam Al-Jana`iz di pasal tentang ”Perjalan Ruh ke Alam Barzakh”. Di sana disebutkan gambaran jelas bagaimana keadaan seorang mukmin dan munafik atau kafir ketika telah dibaringkan di kuburnya akan didatangi oleh dua malaikat. Hadits versi lengkap ini disebutkan oleh Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawa`id, no. 4266, juz 3 hal. 170, cetakan Dar Al-Fikr).

b. Hadits doa di waktu pagi hari
Hadits ini disebutkan oleh Ath-Thabarani dalam kitab Ad-Du’a` hadits nomor 295 , Ibnu Sunni dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah hadits nomor 37. Berikut sanad Ath-Thabarani:

Abdullah bin Muhammad bin Abdul Aziz Al-Maushili menceritakan kepada kami, Ghassan bin Ar-Rabi’ menceritakan kepada kami, Abu Isra`il Al-Mala`iy menceritakan kepada kami, dari Thalhah bin Musharrif, dari Abdurrahman bin Ausajah, dari Al-Bara` bin ‘Azib ra, dia berkata, “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa membaca doa ini di waktu pagi:

أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَالْكِبَرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ
“Kami menjelang pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji hanya bagi Allah, tiada ilah selain Allah, hanya Dia sendiri tiada sekutu bagi-Nya. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepadamu kebaikan yang ada pada hari ini dan kebaikan yang ada setelahnya, dan aku berlindung kepadamu dari kejelekan yang ada di hari ini dan kejelekan yang ada setelahnya. Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari kemalasan, kesombongan dan azab kubur.”

Demikian redaksi yang ada dalam kitab Ad-Du’a` oleh Ath-Thabarani, sedangkan dalam redaksi Ibnu Sunni ada sedikit perbedaan di akhirnya,
(اللهُمَّ أعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبْرِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ)

Dalam Al-Mu’jam Al-Kabir juga disebutkan hadits di atas dengan sanad yang sama tapi tanpa menyebut azab kubur.

Al-Haitsami mengomentari, “Diriwayatkan dari jalur Ghassan bin Ar-Rabi’ dari Abu Isra`il, umumnya hadits-hadits mereka itu lemah, tapi mereka dianggap tsiqah, sedangkan para perawi lainnya adalah para perawi kitab shahih.”

Tapi Ghassan di sini dikuatkan oleh Ismail bin Aban sebagaimana riwayat Ibnu Sunni, sehingga kelemahan hanya terfokus pada Abu Isra`il yang bernama asli Ismail bin Khalifah Al-Absi.

Ismail bin Khalifah dianggap oleh Imam Ahmad boleh ditulis haditsnya, Yahya bin Ma’in mengatakan, dia shalih (baik). Abu Hatim mengatakan, “hasanul hadits, pertemuannya bagus tapi tidak bisa dijadikan hujjah, dia punya beberapa kerancuan”. Abu Zur’ah menganggapnya, shaduq hanya saja dalam pendapat pribadinya ada sedikit ghuluw (hal berlebihan)”. Dia pernah memaki Utsman dan An-Nasa`iy menganggapnya dha’if.

Intinya dia adalah seorang syiah periode awal, tapi dalam hadits ini dia tidak meriwayatkan yang mendukung kebid’ahannya, hanya saja memang diakui hafalannya buruk. Jadi, hadits ini ada kemungkinan hasan, atau kalaupun dha’if masih bisa dijadikan penguat hadits lain atau sah dipakai sebagai syahid. Wallahu a’lam.


2. Hadits Anas bin Malik
a. Hadits penyodoran bangku di alam barzakh
Muslim meriwayatkan, ”Abd bin Humaid menceritakan kepada kami, Yunus bin Muhammad menceritakan kepada kami, Syaiban bin Abdurrahman menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Anas bin Malik, Rasulullah saw bersabda

“Sesungguhnya seorang hamba jika diletakkan di dalam kuburnya dan ditinggalkan oleh pengantarnya- dan dia mendengar suara sandal mereka.

Rasulullah SAW bersabda, ”Lalu ia didatangi oleh dua malaikat dan didudukkan, lalu keduanya menanyainya: ’Apa yang kamu ketahui tentang perihal orang ini, maksudnya Muhammad -Shalallahu alaihi wa salam- , maka orang mukmin akan menjawab: saya bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Lalu dikatakan: “Lihatlah kepada tempat dudukmu dari neraka, Allah telah menggantikannya untukmu tempat duduk surga, lalu ia melihat kepada keduanya sekaligus.” (HR. Muslim no. 2870).

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam shahihnya, no. 1338, kitab Al-Jana`iz, bab: ”Al-Mayyit sami’a khafaqa an-ni’aal”: ’Ayyasy menceritakan kepada kami, Abdul A’la menceritakan kepada kami, Sa’id menceritakan kepada kami”, lalu ada jalur lain lagi menuju Sa’id yaitu, Khalifah berkata kepadaku (Al-Bukhari), Ibnu Zurai’ menceritakan kepada kami, Sa’id menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Anas.

b. Hadits doa perlindungan dari azab kubur
Al-Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya, Musaddad menceritakan kepada kami, Al-Mu’tamir menceritakan kepada kami, katanya, Aku mendengar ayahku berkata, Aku mendengar Anas bin Malik RA berkata, Nabi Allah SAW biasa berdoa,

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ
”Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, kepengecutan dan ketuaan, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah hidup dan mati.”

Seandainya azab kubur itu tidak ada, maka apa perlunya berlindung dari sesuatu yang memang tidak ada?

c. Hadits yang mati di hari Jum’at
Hadits Anas tentang ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la, dia berkata, Abu Ma’k Ismail bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ja’far menceritakan kepada kami, dari Waqid bin Salamah, dari Yazid bin Aban Ar-Raqasyi, dari Anas bin Malik RA yang berkata, Rasulullah SAW bersabda:

”Siapa yang mati di hari Jum’at, maka Allah akan menjaganya dari azab kubur.”

Yazid Ar-Raqqasyi dipersoalkan kredibilitasnya oleh Al-Hafizh Al-Haitsami, dan memang dikatakan dha’if oleh Ibnu Hajar dalam kitab At-Taqrib (2/212). Tapi yang pasti hadits ini ada syahidnya dari riwayat Abdullah bin ’Amr bin ’Ash yang akan disebutkan nanti.

d. Hadits Rasulullah SAW berbicara kepada orang kafir yang mati di perang Badar
Hadits ini terdapat dalam shahih Muslim kitab Shifatu Al-Jannah, bab: ’Aradh Maq’ad Al-Mayyit, no. 2874.

Muslim berkata, Haddab bin Khalid menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Tsabit Al-Bunnani,

Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam meninggalkan para korban tewas perang Badar selama tiga hari, kemudian beliau kembali mendatangi mereka dan berkata, ”Wahai Abu Jahl bin Hisyam, wahai Umayyah bin Khalaf, wahai Utbah bin Rabi’ah, wahai Syu’bah bin Rabi’ah, bukankah kalian sudah mendapati bahwa apa yang dijanjikan Tuhan kalian benar adanya?! Sungguh aku telah mendapati apa yang dijanjikan Tuhanku itu benar adanya.”

Umar mendengar perkataan Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam tersebut dan dia bertanya, ”Wahai Rasulullah, bagaimana mereka bisa mendengar dan bagaimana mereka bisa menjawab, padahal mereka telah menjadi bangkai?"

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam menjawab, ”Demi yang jiwaku berada di Tangan-Nya, kalian tidaklah lebih mendengar apa yang aku ucapkan ini daripada mereka, hanya saja mereka tidak bisa menjawab.”

Selanjutnya beliau memerintahkan mayat-mayat orang kafir tersebut dibuang ke sebuah parit di Badar.

Artinya, mereka telah merasakan azab yang dijanjikan Tuhan kepada mereka dan itu mereka rasakan setelah mereka memasuji alam barzakh.

e. Hadits Rasulullah SAW mendengar azab kubur di perkebunan Bani Najjar
Hadits ini banyak yang meriwayatkan salah satunya Anas bin Malik, sebagaimana disebutkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya, Al-Baihaqi dalam Itsbat ’adzab Al-Qabr, hal. 74 juga oleh Muslim dalam shahihnya, no. 2868 dan An-Nasa`iy dalam sunannya, no. 2054 pada kitab Al-Jana`iz, bab: ’Adzaab Al-Qabr.

Berikut sanad Imam Ahmad, Hasan yakni Ibnu Musa menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Tsabit dan Humaid, bahwa Anas menceritakan, ”Rasulullah SAW mengendarai bagal (sejenis keledai) berawarna abu-abu, dan beliau melewati sebuah perkebunan milik Bani Najjar, ternyata di sana ada sebuah kuburan yang penghuninya sedang disiksa. Hal itu membuat bagalnya ketakutan, beliaupun bersabda,

لَوْلاَ أَنْ لاَ تَدَافَنُوا ، لَدَعَوْتُ اللهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ عَذَابَ الْقَبْرِ
”Kalau saja kalian tidak dikubur niscaya aku berdoa kepada Allah agar kalian mendengar azab kubur.”

Muslim meriwayatkan dengan lebih ringkas yaitu hanya pada teks perkataan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam saja tanpa disertai kisahnya tapi dengan sanad yang berbeda dari Ahmad.

Sanad Muslim: Muhammad bin Al-Mutsanna dan Ibnu Basysyar menceritakan kepada kami, keduanya berkata, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Anas, bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda....”

Sementara Al-Baihaqi juga menyebutkan riwayat dari jalur Sufyan bin Uyainah, Qasim Ar-Rahhal menceritakan kepada kami, dari Anas. Al-Baihaqi mengatakan isnadnya shahih dan menjadi penguat bagi riwayat-riwayat sebelumnya.

Jadi, ada 4 orang yang meriwayatkan hadits ini dari Anas, yaitu Tsabit Al-Bunnani, Humaid Ath-Thawil, Qatadah dan Qasim Ar-Rahhal.

f. Hadits Nabi SAW bersama Bilal, dimana beliau mendengar Yahudi sedang disiksa di kuburannya di Baqi'
Hadits ini juga disebutkan oleh Al-Baihaqi dalam Al-Itsbat dan musnad Ahmad di musnad Anas, no. 12530. Sanad Ahmad: Abdush Shamad menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku, Abdul Aziz menceritakan kepada kami, dari Anas,

”Ketika Rasulullah SAW sedang berada di salah satu perkebunan kurma milik Abu Thalhah maka beliau buang hajat sedangkan Bilal berjalan di belakang beliau, karena dia menghormati Rasulullah SAW sehingga tidak mau berjalan di samping beliau. Kemudian Nabi SAW melewati sebuah kuburan, beliau berhenti dan berdiri sampai beliau tersusul oleh Bilal. Beliau berkata, ”Gila Bilal[8], apa kamu mendengar apa yang aku dengar?” Bilal menjawab, ”Saya tidak mendengar apa-apa.” Beliau berkata, ”Aku mendengar penghuni kuburan itu disiksa.”

Selanjutnya ditanyakanlah perihal siapa dalam kuburan itu, ternyata orang Yahudi.

Ini jelas berbeda dengan hadits sebelumnya, karena peristiwanya terjadi di kebun milik Abu Thalhah, bukan di perkebunan Bani Najjar dan yang disiksa adalah orang Yahudi, sedangkan sebelumnya adalah orang jahiliah. Juga dalam hadits ini diceritakan bahwa beliau bersama dengan Bilal, sedangkan hadits sebelumnya bersama beberapa orang antara lain Zaid bin Tsabit sebagaimana dalam riwayat Zaid bin Tsabit sendiri.


3. Hadits Abu Sa’id Al-Khudri
a. Hadits ujian di alam kubur
Ini terdapat dalam Musnad Ahmad (no. 11013) dan musnad Al-Bazzar (Majma’ Az-Zawa`id, no. 4263).

Berikut sanad Ahmad, “Abu ‘Amir menceritakan kepadaku, ‘Ibad (yaitu bin Rasyid) menceritakan kepada kami, dari Daud bin Abu Hind, dari Abu Nadhrah, dari Abu Sa’id Al-Khudri RA, Rasulullah SAW bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذِهِ اْلأُمَّةَ تُبْتَلَى فِيْ قُبُوْرِهَا فَإِذَا اْلإِنْسَانُ دُفِنَ فَتَفَرَّقَ عَنْهُ أَصْحَابُهُ جَاءَهُ مَلَكٌ فِيْ يَدِهِ مِطْرَاقٌ.....(الحديث)

“Wahai manusia, sesungguhnya umat ini akan diuji di kuburnya. Ketika seseorang sudah dikuburkan dan ditinggal oleh para pengantar, maka akan ada malaikat yang mendatanginya sambil membawa palu…..(sampai akhir hadits)

Sanad hadits ini dianggap hasan oleh Syekh Syu’aib Al-Arna`uth dalam tahqiqnya terhadap Musnad Ahmad. Sementara Al-Albani menganggapnya shahih dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, no. 3394.

b. Hadits tafsiran Rasulullah SAW terhadap surah Thaaha ayat 124
Sudah dibahas dalam pasal tentang Azab Kubur dalam Al-Qur`an.

c. Hadits orang kafir digigit ular di dalam kuburnya
Imam Ahmad meriwayatkan dalam musnadnya 17/433-434, no. 11334:

Abu Abdirrahman menceritakan kepada kami, Sa’id bin Ayyub menceritakan kepada kami, dia berkata, Aku mendengar Abu As-Samh berkata, Aku mendengar Abu Al-Haitsam berkata, Aku mendengar Abu Sa’id Al-Khudri berkata, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,

يُسَلَّطُ عَلَى الْكَافِرِ فِي قَبْرِهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ تِنِّينًا تَلْدَغُهُ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ، فَلَوْ أَنَّ تِنِّينًا مِنْهَا نَفَخَ فِي الْأَرْضِ مَا أَنْبَتَتْ خَضِرًا

”Akan ada 99 ekor ular yang mengerubungi orang kafir dalam kuburnya dimana ular-ular itu menggigitnya sampai hari kiamat tiba. Kalau ada satu saja dari ular-ular tersebut yang menyemburkan bisanya ke bumi maka tidak akan ada sayuran yang bisa tumbuh.”

Al-Arna`uth menganggap sanad ini lemah karena riwayat Abu As-Samh Daraj dari Abu Al-Haitsam adalah lemah. Sedangkan Ath-Thabari menyebutkan riwayat ini secara mauquf kepada Abu Sa’id. Tapi biarpun mauquf maka hukumnya sama dengan marfu’ karena hal semacam ini tidak bisa disampaikan berdasarkan pendapat pribadi.

Sanad Ath-Thabari ke Abu Sa’id adalah:

Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam menceritakan kepadaku, dia berkata, ayahku dan Syu’aib bin Al-Laits menceritakan kepada kami, dari Al-Laits, dia berkata, Khalid bin Zaid[14] menceritakan kepada kami, dari Ibnu Abi Hilal, dari Abu Hazim, dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa dia berkata, “Sesungguhnya “kehidupan yang sempit” itu adalah azab kubur. Ada 99 ekor ular berbisa yang mengerubungi orang kafir yang menggigit dan menyengat dagingnya sampai dia dibangkitkan. Dikatakan bahwa kalau satu saja ular itu menyemburkan (racunnya) di bumi maka tidak akan ada tumbuhan yang tumbuh.”

Sanad ini memang lemah karena Abu Hazim tidak diketahui pernah mendengar dari Abu Sa’id Al-Khudri langsung, tapi dari beberapa riwayat sebelumnya yang berisi tafsiran Abu Sa’id tentang surah Thaha ayat 124 ini ia meriwayatkannya dari An-Nu’man bin Abi Ayyasy. Lagi pula ini didukung oleh riwayat Abu As-Samh yang juga mauquf sebagaimana disebutkan oleh Al-Baihaqi dalam Itsbat ‘Azab Al-Qabr sehingga statusnya menjadi hasan lighairih. Wallahu a’lam.

Dengan demikian, maka hadits tentang adanya azab kubur berupa gigitan 99 ekor ular kepada orang kafir dan itu adalah salah satu bentuk azab dalam kubur punya sandaran yang kuat dan yang jelas bisa menambah tingkat kemutawatiran hadits-hadits tentang adanya azab kubur itu sendiri sebagaimana yang menjadi fokus bahasan kita kali ini.

------------------------------------------
Dan masih terdapat puluhan Hadits lainnya (termasuk dalam kitab Shahih Bukhari) yang menyebut term "Azab Kubur"

Untuk makalah penuhnya silahkan didownload di sini
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.