Delegasi AS dalam pertemuan Kabul
Pada hari Sabtu ini (5/3), Taliban menyatakan tidak akan mengambil bagian dalam upaya perundingan damai yang melibatkan 4 negara, yaitu Afghanistan, Pakistan, China, dan Amerika Serikat.

Sejak digulingkan dari kekuasaan oleh invasi militer Amerika Serikat (AS) dan sekutu pada tahun 2001, Taliban terus melakukan perlawanan bersenjata untuk menggulingkan pemerintahan Afghanistan dukungan Barat.

Taliban mendeklarasikan perjuangannya untuk membangun kembali pemerintahan Imarah Islam, yang menurut Barat dianggap "fundamentalis".

Sebelumnya dalam pertemuan 4 negara di Kabul pada bulan Februari lalu, wakil-wakil delegasi sepakat menargetkan perundingan langsung antara pemerintah Afghanistan dan Taliban akan dimulai pada awal Maret (pekan depan).

Namun Taliban membantah akan berpartisipasi dalam pembicaraan mendatang di Islamabad.

Dengan berbagai serangan udara dan operasi-operasi khusus oleh sisa-sisa pasukan AS di negeri itu (terhadap Taliban) dalam rangka untuk mendukung pemerintah Kabul, Taliban tidak akan berpartisipasi dalam perundingan.

"Kami menolak semua rumor tersebut dan secara tegas menyatakan bahwa pemimpin Imarah Islam tidak mengizinkan siapapun untuk berpartisipasi dalam pertemuan. (Imarah Islam) sekali lagi menegaskan bahwa tanpa berakhirnya penjajahan Afghanistan, dihapusnya daftar hitam dan membebaskan tahanan tak bersalah, maka negosiasi sia-sia menyesatkan tersebut tidak akan membawa hasil apapun", ujar sebuah pernyataan Taliban dikutip oleh Reuters.

Upaya pembicaraan langsung antara Kabul dan Taliban telah terhenti sejak pengumuman tahun lalu mengenai wafatnya pendiri dan pemimpin Taliban, Mullah Muhammad Omar, pada tahun 2013.

Pemimpin baru Taliban, Mullah Akhtar Mansour, menetapkan prasyarat untuk perundingan damai, yaitu ditariknya semua intervensi asing dari negeri kaya mineral tersebut.

Bahkan beberapa bagian Taliban menolak perundingan damai apapun untuk bagi-bagi jabatan politik di dalam "pemerintahan korup Afghanistan". Tidak ada tujuan lain selain Syari'at Islam.

Sikap berbagai faksi terhadap perundingan damai dikabarkan sempat memicu perpecahan dan berusaha diselesaikan oleh pemimpin Taliban. (Reuters/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.