Suasana pasca ledakan
Pasca serangan bom Istanbul, Presiden Tayyip Recep Erdogan mengatakan pada hari Senin bahwa Turki akan menggunakan semua sumber daya militer dan intelijen yang diperlukan untuk melawan "gelombang serangan teroris terbesar dan paling mematikan dalam sejarah".

Serangan bom bunuh diri keempat selama 2016 mengguncang Turki pada hari Sabtu (19/3) di Istiklal Street, Istanbul, sebuah jalur pejalan kaki dan pusat perbelanjaan, serta lokasi beberapa konsulat asing.

Sejak 2016, terjadi dua bom di Istanbul yang dituduhkan didalangi oleh ISIS, dua bom lainnya mengguncang ibukota Ankara yang diklaim dilakukan oleh TAK Kurdi, bagian dari kelompok teroris PKK. Total 4 serangan bunuh diri kedua kelompok teroris membunuh hingga 80 orang, termasuk warga asing.

Pelaku serangan terbaru diidentifikasi bernama Mehmet Oztur, lahir pada tahun 1992 di provinsi Gaziantep, selatan Turki dekat perbatasan Suriah. 3 orang lainnya yang diduga terlibat dilaporkan masih terus diburu oleh pihak keamanan.

Dalam pidatonya Erdogan menyatakan akan mengerahkan semua kemampuan keamanan Turki untuk memerangi terorisme dan pihak yang di belakang mereka.

"Turki saat ini tengah menghadapi salah satu gelombang serangan teroris terbesar dan paling berdarah dalam sejarah... Negara kita sedang melawan organisasi teroris dan kekuatan di belakangnya dengan segenap kemampuan - dari para tentara, polisi, penjaga desa dan intelijen", ujar Erdogan dalam sebuah pidatonya di Istanbul, seperti dimuat Reuters.

Erdogan menuduh PKK dan kelompok lain telah bekerja dengan ISIS untuk mengacaukan Turki karena gagal mencapai tujuan di tempat lain di kawasan.

Ia juga menyebut Eropa sebagai "bermuka dua" karena mengizinkan simpatisan PKK mendirikan tenda pameran di dekat lokasi pertemuan Uni Eropa-Turki di Brussels, Belgia, pekan lalu.

Pengamat menilai bahwa Eropa memandang pemerintah Turki telah melakukan diskriminasi terhadap kelompok minoritas seperti Kurdi. Sehingga Eropa jauh lebih lunak dalam menyikapi gerakan teroris PKK yang mengatasnamakan etnis Kurdi.

Sementara itu pihak oposisi Turki justru menyalahkan kebijakan pemerintahan Erdogan dan partai AKP di Suriah yang pro pejuang Sunni (moderat), hal ini dianggap telah menyulut berbagai masalah, terutama terorisme.

Oposisi juga menuduh jika perang melawan terorisme yang diungkapkan Erdogan akan lebih berfokus pada PKK daripada ISIS.

Menurut kalangan Islamis dan pro Ikhwanul Muslimin (IM), rangkaian serangan terorisme yang menyasar Turki selama setahun belakangan telah dimanfaatkan untuk menjatuhkan pemerintahan Erdogan dan partai AKP, serta merusak upaya Islamisasi yang mulai dijalankan di Turki.

Serangan teror juga dinilai menjadi jalan membawa Turki ke dalam kondisi kekacauan sehingga dapat menghasilkan pergeseran kekuasaan politik. Dimana Turki pernah mengalami chaos pada dekade 1960-an, 1970-an hingga 1980-an, serta terjadinya kudeta militer. (Reuters/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.