Gambaran ledakan menara kembar WTC
Sebuah bocoran dokumen pengadilan Amerika Serikat (AS) yang diperoleh secara eksklusif oleh koran berbahasa Arab, Asharq al-Awsat, pekan lalu, menyebut keterlibatan Iran dalam tragedi serangan 9/11 yang menewaskan ribuan warga AS.

Pengadilan AS juga menuntut Iran agar memberikan ganti rugi sebesar USD 10,5 miliar bagi keluarga korban tewas akibat rangkaian serangan. 

Iran dituduh telah membantu mengatur rute bagi para anggota al-Qaeda untuk menuju kamp di Afghanistan untuk pelatihan, yang kemudian menjadi persiapan serangan 9/11.

Dokumen juga mengungkap bahwa petinggi kelompok Hezbollah, Imad Mughniyeh -tewas pada tahun 2008-, diduga bertemu dengan para pelaku pada Oktober 2000. Serta mengatur penerbangan bagi mereka ke Iran menggunakan paspor baru sebelum terjadinya serangan itu.

Dalam gugatan pengadilan mengklaim 274 bukti keterlibatan Iran dan kelompok teroris Syi'ah Hezbollah Lebanon terlibat pembiayaan aktivitas terorisme dan kerja sama dengan al-Qaeda.

Pengadilan menyebutkan bahwa Osama bin Laden, Dr. Ayman az-Zawahiri, Imad Mughniyeh dan diplomat Iran telah mengadakan pertemuan di Sudan untuk membentuk aliansi yang merancang serangan teror terhadap musuh mereka.

Laporan pengadilan juga menuding ada enam pejabat dan badan negara di Iran terlibat dalam kasus ini. Termasuk pemimpin tertinggi Republik Syi'ah Iran, Ali Khamenei, lalu mantan menteri intelijen Iran Ali Fallahaian, wakil komandan Korps Garda Revolusi Iran Brigadir Jenderal Mohammed Baqir.

Badan yang terlibat yaitu Kementerian Intelijen Iran, Tentara Garda Revolusi Islam (IRGC) dan pasukan khusus divisi al-Quds.

Selain bantuan keuangan dan pelatihan, Iran juga disebut telah memberikan perlindungan bagi para petinggi al-Qaeda usai serangan 9/11 tahun 2001 lalu.

Bocoran ini muncul di tengah mulai membaiknya hubungan Teheran-Washington, namun pengamat menilai bahwa hal ini tak akan berpengaruh apa-apa bagi AS dan Iran.

Serangan 11 September 2001 telah menewaskan hampir 3000 orang. AS menuduh al-Qaeda dan menjadikan Osama bin Laden sebagai buruan nomor satunya saat itu.

Presiden AS, George Bush kemudian menyerang Afghanistan, negeri kaya mineral, yang saat itu masih dikuasai Taliban. Pemerintah Taliban dituduh melindungi al-Qaeda atau menjadi sponsor teroris.

Para pendukung al-Qaeda menyebut 11/9 sebagai serangan "penuh berkah" yang menghantam Amerika Serikat sebagai "kafir harbi" (negara yang memusuhi Islam). 

Uniknya, berbagai teori konspirasi mengklaim berbagai kejanggalan atas serangan tersebut. (Asharq Al-Awsat/CNN Indonesia)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.