Koin Emas catakan ISIS
Sejak tahun 2014, kelompok ISIS atau Daesh, menyatakan telah mencetak alat tukarnya sendiri untuk urusan sektor moneter di wilayah mereka. Alat tukar tersebut adalah koin Emas dinar dan Perak dirham versi ISIS yang berbasis nilai intrinsik.

Dalam video propaganda resminya, kelompok tersebut memimpikan akan menghancurkan sistem mata uang kertas buatan Yahudi dengan dasar ribawi dan nilai imajiner nominal). ISIS mengklaim bahwa penggunaan dinar dan dirham sebagai pencapaian penting "khilafah al-Baghdadi" dalam mewujudkan perekonomian Islam yang sesuai Syari'at.

Video propaganda ISIS juga menunjukkan seorang militan berbelanja dengan menggunakan dinar, serta gambaran kehidupan ekonomi "kekhilafahan".

Namun hingga saat ini ISIS dilaporkan terus menggunakan mata uang kertas Dollar Amerika Serikat (AS) menggaji para militan dan denda.

Seorang aktivis di ibukota ISIS, Raqqah, seperti diberitakan Independent, melaporkan bahwa kelompok tersebut masih tetap bergantung terhadap kertas Dollar AS untuk menghidupi organisasi.

ISIS masih menggaji amggotanya, menjual minyak dan perdagangan lainnya, dan menerima zakat, jisyah, setoran serta denda dari masyarakat dalam bentuk kertas Dollar.

Bahkan menurut sumber di Raqqah, di tengah masalah finansial belakangan, ISIS makin gencar menerapkan denda untuk para pelanggar peraturan selain hukuman fisik. Termasuk untuk hal-hal kecil, seperti ketahuan memperbaiki televisi-satelit bisa didenda hingga USD 50 atau sekitar Rp 664 ribu.

Merokok di wilayah ISIS juga dikenakan denda USD 25 (Rp 332 ribu) per batangnya. Pelanggaran lalu lintas USD 25, melanggar aturan berpakaian bagi wanita USD 20 (Rp265 ribu) hingga denda bagi warga laki-laki yang tidak shalat berjama'ah USD 20.

Aktivis bernama Abu Mohammed menyebut jika cara ini digunakan untuk meningkatkan pendapatan ISIS. Menurutnya, mimpi menggunakan dinar adalah "omong kosong dan propaganda" (untuk mencari pendukung).

"Daesh (ISIS) mengampanyekan gagasan untuk memukul ekonomi AS dengan mengeluarkan mata uang sendiri, tetapi kenyataan di lapangan mereka melakukan yang sebaliknya, dengan memiliki sistem moneter yang sepenuhnya tergantung pada Dollar AS", tulisnya.

Serangan koalisi AS belakangan menyasar kantung-kantung uang ISIS dan ditambah mencegah penjualan minyak mereka, membuat kelompok tersebut mengalami kemacetan finansial.

Di Mosul, pada Februari lalu, para pengusaha penukaran uang mengeluhkan ISIS telah memanipulasi aturan kurs untuk meraup keuntungan dari transaksi Dollar milik mereka. (Baca: ISIS monopoli kurs dan kendalikan perdagangan Mosul)

Kesulitan finansial juga membuat ISIS harus memotong gaji para militannya hingga menjadi setengah dari semula. (The Independent/CNN Indonesia/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.