Bandara yang dibom
2 tempat umum di ibukota Belgia, Brussels, diguncang bom bunuh diri pada hari Selasa (22/3). Lebih dari 30 orang warga sipil terbunuh secara membabi buta, sementara ratusan lainnya terluka.

Pasca serangan, solidaritas dan simpati dari seluruh dunia mengalir untuk Belgia.

Bahkan presiden RI, Joko Widodo, mewakili Indonesia mengucapkan simpatinya melalui Facebook.

"Indonesia mengutuk keras serangan bom di Brussels Belgia. Indonesia menyampaikan simpati dan duka cita mendalam kepada rakyat, pemerintah Belgia, korban dan keluarga korban. Indonesia menyerukan komunitas internasional untuk meningkatkan kerjasama dalam mengatasi ekstremisme dan terorisme", kutipan status Fanpage Presiden RI.

Jokowi sempat dikritik mengapa tidak melakukan hal serupa atas serangan bom ISIS baru-baru ini di Istanbul maupun di Nigeria yang menyasar masjid.

Selain dukungan terhadap Belgia, laman Al-Jazeera juga mencatat munculnya topik yang membahas Islam dan masa depannya di dunia Barat. Opini kemarahan yang dibalut isu politik muncul di media sosial Eropa setelah pengeboman.

Serangan mematikan yang diklaim dilakukan oleh ISIS tersebut seketika menjadi trending topic di jejaring sosial Twitter. Memunculkan berbagai tanda pagar (#) atau Hashtag di Twitter yang berhubungan dengan Belgia.

Sedangkan para pengguna Facebook banyak yang mengubah gambar profil mereka dengan bayang-bayang bendera Belgia sebagai solidaritas dan doa pada korban bom ISIS di Brussels.

Reaksi pengguna internet dunia dan Eropa khususnya cukup bervariasi, meski beberapa diantaranya terdapat tokoh yang menggunakan isu serangan teroris untuk menguatkan pandangan politiknya dan bahkan menimbulkan perdebatkan isu keberadaan Islam di negara-negara Barat.

Padahal Ulama Islam dari berbagai negara dan pemikiran, telah sepakat memvonis ISIS sebagai kelompok Khawarij modern yang memahami agama secara sesat dan sangat ekstrim sehingga menimbulkan kerusakan.

Serangan anti Islam dan imigran
Sebuah tema yang biasanya menyusul pasca serangan teroris di Barat, seperti di Brussels dan sebelumnya di Paris, adalah perdebatan seputar masa depan keberadaan Islam dan kaum Muslimin di Eropa.

Kalangan anti Islam menyebut bahwa serangan bom bunuh diri ISIS ini sebagai "bukti" ancaman Islam dan Muslim yang berbahaya.

Hashtag #StopIslam yang dibuat kalangan anti Islam dengan cepat menyebar. Namun justru dibanjiri oleh pesan solidaritas terhadap Muslim dan kecaman pada ISIS. Mayoritas pengguna jejaring sosial menolak Islamofobia.

Eropa menjadi salah satu wilayah yang memiliki perkembangan Islam cukup pesat. Selain oleh arus imigran dari negara konflik, angka kelahiran wanita asli Eropa dapat dikatakan sangat rendah daripada imigran Muslim.

Menimbulkan isu ancaman imigran pasca serangan dari kelompok ekstrimis Eropa yang anti imigran.

Namun negara-negara Uni Eropa dituntut agar tetap konsisten menerima para pencari suaka atau pengungsi dari wilayah konflik, dan tidak mempolitisasi serangan teroris.

Sikap yang tidak proporsional?
Bagi para pengguna internet Muslim, isu menonjol yang muncul setelah serangan di Belgia adalah tidak proporsional media internasional dalam memberitakan.

Apa yang ditampilkan media dari kasus Belgia sangat berbeda dengan liputan mereka pada serangan teroris serupa, seperti yang menghantam di Turki dan negara-negara lainnya.

Serangan bom di Istanbul pada beberapa hari sebelumnya, yang juga dilakukan ISIS, tidak mendapat jumlah cakupan pemberitaan dan kehebohan yang sama seperti bom Brussels dan serangan Paris.

Beberapa bahkan menganggapnya sebagai standar ganda, dan menuduh hal ini disebabkan adanya pembagian terhadap selain Eropa dan Barat.

Namun pengguna lain menjelaskan bahwa kesamaan dan kedekatan Barat inilah yang secara alami bisa menimbulkan sikap emosional lebih oleh masyarakat Barat daripada dengan tempat lain.

Barat, antara "teroris baik" dan "teroris jahat"
Pekan lalu, sebuah tenda kelompok teroris komunis PKK yang berasal dari etnis Kurdi di Turki diizinkan berdiri di ibukota Brussels, Belgia.

Tenda PKK tersebut didirikan oleh para simpatisannya di dekat lokasi pertemuan antara Turki dan Uni Eropa yang membahas arus pengungsi Suriah.

Pemerintah Turki kemudian melayangkan protes terhadap Belgia atas berdirinya tempat berekspresi pendukung teroris di pusatnya Uni Eropa. Turki juga meminta agar tidak ada standar ganda dalam memerangi terorisme.

Sebab tak mungkin pendukung Al-Qaeda, ISIS dan grup-grup lain yang masuk list teroris Barat lainnya bisa leluasa mengekspresikan dukungan di tempat umum.

Dari penelusuran Risalah, beberapa negara Eropa memiliki pandangan "unik" terhadap teroris PKK yang berasal dari etnis Kurdi di Turki.

Eropa memandang konflik yang muncul sebagai kesalahan kebijakan Turki terhadap kelompok minoritas. Hal inilah yang menimbulkan respon berbeda terhadap grup teroris berbeda.

Seorang netizen menyindir jika Barat memiliki pembagian terorisnya sendiri, yaitu "teroris baik" dan "teroris jahat". (Al-Jazeera/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.