Sepasang burung Albatros betina
Banyak binatang yang melakukan tindakan atau aksi seperti homoseksual.

Namun apakah memang binatang-binatang ini adalah homoseksual?

Seperti dimuat oleh BBC Earth, kajian "homoseksual pada hewan" menemukan karakteristik dan alasan sendiri tentang perilaku sosial berbagai spesies yang ditemukan keintiman sesama jenis.

Monyet Jepang
Persaingan sangat ketat terjadi diantara Monyet-Monyet Jepang pada musim kawin di musim dingin. Tapi persaingan tersebut bukanlah persaingan yang wajar.

Faktanya, Monyet jantan tak hanya bersaing dengan sesama pejantan lain untuk mendapatkan pasangan betina, sebab mereka juga harus bersaing dengan para betina untuk mendapatkan pasangan betina.

Interaksi sosial antar Monyet betina yang menjurus pada kontak intim bukanlah sesuatu yang aneh dalam berbagai populasi spesies tersebut. Karena dapat terjadi secara berulang-ulang, atau menjadi semacam permainan menyenangkan mereka pada waktu-waktu musim kawin.

"Satu betina menunggangi betina lain, menggosokkan alat kelaminnya… Yang lain mengambil posisi seperti joki (yang tengah menunggang Kuda)", kata Paul Vasey dari Universitas Lethbridge, di Alberta, Kanada, yang melakukan penelitian spesies ini selama 20 tahun.

Ketika sedang bukan musim kawin, para betina tersebut akan bersama dan saling melindungi satu sama lain untuk menghadapi pesaing yang datang kepada mereka.

Memang umum ditemukan perilaku atau interaksi seperti homoseksual di dunia hewan, mulai dari Serangga hingga Mamalia.

Namun apa hakikat dari perilaku tersebut, serta alasannya?
Bisakah perilaku mereka disebut sebagai homoseksual?

Perilaku keintiman sesama jenis pada binatang awalnya hanya dianggap sebagai penyimpangan atau keanehan saja. Hingga Bruce Bagemihl dalam bukunya yang berjudul Biological Exuberance pada 1999, mengungkapkan bahwa banyak ditemukan perilaku tersebut pada spesies hewan.

Fakta ini kemudian menjadi kajian penelitian tersendiri bagi para ilmuwan.

Buku Bagemihl menyebutkan perilaku homoseksualitas ditemukan pada banyak contoh spesies, tetapi sebenarnya hal tersebut sangat jarang dalam populasinya.

Dan meski ada contoh jelas pada beberapa spesies, selebihnya lebih banyak yang tidak bisa dipastikan apakah benar-benar bentuk homoseksual, karena sekilas memang sangat mirip antara hewan jantan dan betina.

Sementara jika menilainya dalam kacamata teori evolusi dan seleksi alam, maka homoseksualitas pada hewan bukanlah perilaku rasional bagi mereka untuk melestarikan jenis dan gen-gen mereka.

Hewan-hewan tersebut harus mencari pasangan untuk memperoleh keturunan agar spesiesnya bertahan di muka bumi ini. Kalau mereka memutuskan untuk mencari pasangan sejenis, jelas gen mereka akan lenyap, serta spesies mereka lama-kelamaan akan punah.

Fakta memang menunjukkan ada binatang yang menunjukkan perilaku homoseksual dan tidak terjadi sesekali, sehingga bisa disebut sebagai blunder, melainkan suatu interaksi yang terus berulang. Contohnya adalah perilaku Monyet Jepang betina tadi.

"Ada banyak Monyet betina yang saling terpesona dengan betina lain, sementara yang jantan sibuk sendiri dengan jarinya… Jadi harus ada penjelasan yang bisa diterima oleh prinsip evolusi mengapa Monyet-Monyet betina berperilaku demikian", kata Vasey.

Tim peneliti pimpinan Vasey menemukan bahwa para Monyet betina menggunakan variasi posisi yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan jantan.

Dalam penetiannya pada 2006, tim ilmuwan ini menyimpulkan bahwa mungkin saja banyaknya posisi tersebut adalah alasan memperoleh sensasi seksual yang berbeda.

"Mereka (Monyet betina) bisa melakukan interaksi hemoseksual sama mudahnya dengan interaksi heteroseksual, jadi perilaku mereka telah bercampur", jelas Vasey.

Penelitian Vasey dan timnya tidak menyimpulkan bahwa Monyet betina ini adalah homoseksual, sebab para betina yang diteliti juga tertarik secara seksual dengan Monyet jantan. Mereka punya cara berinteraksi sendiri dalam menarik para pejantan kawin.

Serangga
Dalam beberapa kasus, ada juga alasan mudah yang bisa menjelaskan mengapa suatu spesies menunjukkan perilaku seperti homoseksual, misalnya pada Lalat buah jantan.

Pada 30 menit pertama kehidupan dewasanya, pejantan akan mencoba kawin dengan Lalat-Lalat lain, baik sesama jantan maupun betina. Beberapa waktu kemudian, barulah pejantan muda mulai belajar mengenali bau dari Lalat betina, dimana setelah itu mereka hanya mau kawin dengan Lalat betina.

Jadi jelas ini bukan homoseksual, tetapi trial-error. Meski tampak tidak efisien, tetapi dapat menjadi strategi yang baik untuk mengenali berbagai feromon pada individu lain.

Ada juga jenis Kumbang tepung jantan yang suka menunggangi jantan-jantan lain dan bahkan melepas sperma di punggung jantan yang mereka tunggangi. Ini bukanlah homoseksual murni, tetapi strategi acak.

Karena ketika jantan pembawa sperma ini kawin dengan betina, maka kemungkinan sperma tersebut juga ikut masuk ke tubuh Kumbang betina. Jadi, proses pembuahan dengan betina menjadi bisa lebih banyak, bahkan tanpa kontak fisik secara langsung.

Dalam kasus Kumbang tepung, perilaku seperti homoseksual sebenarnya bermaksud untuk memperbesar kemungkinan membuahi betina, dalam artian untuk berkembang biak.

Pasangan burung Albatros betina
Biasanya satu pasang Albatros akan berpasangan hingga mati. Jantan dengan betina akan kawin dan membesarkan anak bersama. Tapi pada satu populasi di Pulau Oahu, ditemukan 31% pasangan adalah sesama betina.

Namun keduanya membesarkan anak dari hasil "hubungan gelap" dengan jantan lain, yang sudah punya komitmen dengan betina lain, namun secara diam-diam berselingkuh dengan salah satu dari kedua betina itu.

Sama seperti pasangan jantan-betina, pasangan betina-betina hanya bisa membesarkan satu anak dalam satu musim.

Marlene Zuck dari Universitas Minnesota, Amerika Serikat, menjelaskan bahwa pasangan betina-betina ini sebenarnya tak ideal untuk membesarkan anak, tetapi dinilai jauh lebih baik daripada membesarkan anak sendirian (hasil hubungan gelap).

Kemungkinan betina yang sendirian membesarkan anak akan kesulitan bertahan hidup karena masih harus mencari makanan sendiri, selain merawat telur sampai menjaga anaknya.

Dengan begitu "ikatan" antara pasangan betina-betina ini lebih menguntungkan, dan sifat spesies ini yang hanya memiliki satu mitra hidup membuat pasangan sesama betina ini juga akan bertahan.

Selain itu ada keuntungan lain dari pasangan sesama betina, sebab ada kemungkinan mereka akan dibuahi oleh jantan yang kuat dari populasi. Mewariskan gen-gen pada keturunannya melalui salah satu dari pasangan sesama betina itu, walaupun jantan kuat tadi sudah berpasangan dengan betina lain.

Tapi lagi-lagi perilaku sepasang betina ini tak bisa disebut sebagai homoseksual murni, karena mayoritas populasi Albatros di Pulau Oahu adalah betina akibat kegiatan migrasi mereka.

Dengan betina yang lebih, sementara para jantan hanya "berkomitmen" dengan satu betina saja. Alhasil, proses adaptasi populasi membuat adanya pasangan sesama betina dan berkembang biak dari hasil hubungan gelap dengan jantan yang sudah berpasangan.

Jadi, para betina burung Albatros tersebut memang tak mudah dalam menemukan jantan untuk menjadi pasangan untuk komitmen.

Sehingga dalam situasi ketika jumlah jantan-betina relatif sama, perilaku pasangan sesama betina menjadi lebih sulit ditemukan. Dengan kata lain, sebenarnya burung Albatros betina tidak akan memilih berpasangan dengan sesama betina jika bisa menemukan Albatros jantan.

Dari beberapa contoh ini sepertinya tidak ada spesies yang benar-benar membuktikan hipotesis bahwa perilaku homoseksual adalah hal lumrah pada dunia berkelamin. Selalu ada argumen atau alasan yang mementahkan hipotesis tersebut.

Bagaimana dengan perilaku Bonobo (sejenis Simpanse)?
Bonobos sering dianggap sebagai kelompok 'yang suka seks'. Mereka terlibat dalam kegiatan berbau seks yang bermacam-macam dan mencakup perilaku homoseksual antara sesama jantan dan betina.

Menurut Frans de Waalof Emory dari University in Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, Bonobo seperti halnya dengan Monyet Jepang, mereka menikmati keintimannya,

Dalam tulisannya di majalah Scientific American tahun 1995, de Waalof menggambarkan bahwa Bonobo betina sepertinya sangat menikmati rabaan dari betina lain pada bagian alat kelamin.

"Mereka mengeluarkan suara-suara yang mungkin adalah ekspresi orgasme (kesenangan)", kata De Waalof.

Tapi keintiman ini pada Bonobo punya peran yang sangat penting, yaitu untuk menguatan ikatan sosial.

Bonobo muda menggunakan perilaku seksual dengan kera-kera lainnya yang dominan di kelompoknya, sehingga memungkinkannya untuk diangkat menjadi anggota penting di kelompok tersebut.

Dua jantan yang selesai bertarung kadang melakukan saling sentuh alat kelamin (yang dikenal dengan istilah 'adu penis') untuk meredakan ketegangan.

Yang agak lebih jarang, mereka juga berciuman, melakukan fellatio (aksi merangsang alat kelamin), dan meraba alat kelamin jantan lain. Sementar Bonobo-Bonobo muda memanfaatkan keintiman ini untuk saling menghibur satu sama lain.

Jadi, seperti halnya seks pada manusia, binatang memanfaatkan perkara seksual untuk mencapai banyak tujuan. Tapi jika tujuan akhirnya adalah hubungan seksual untuk mendapatkan keturunan, mereka pasti akan mencari pasangan lawan jenisnya.

Mungkin saja perilaku-perilaku pada beberapa spesies ini lebih tepat disebut sebagai "biseksual". Bagi spesies mereka adalah hal mudah untuk berinteraksi intim yang tidak konsisten, dengan berbagai alasan termasuk tujuan sosial dan pengalaman.

Tetapi ketertarikan untuk berkembang biak hanya terjadi dengan lawan jenisnya.

Homoseksual murni?
Para ilmuwan sejauh ini menyimpulkan bahwa hanya ada dua spesies yang memperlihatkan perilaku homoseksual, bahkan ketika ada pasangan lawan jenis yang tersedia, yaitu pada manusia dan satu lagi adalah Domba piaraan (Ovis aries).

Statistik dalam satu kelompok Domba dilaporkan bahwa terdapat hingga 8% jantan yang lebih memilih kawin dengan jantan lain, meski di sekitar mereka tersedia betina yang subur.

Namun pada 1994 telah diketahui bahwa otak pejantan homo ini berbeda dengan pejantan normal. Yaitu bagian otak mereka yang disebut hypothalamus (yang berfungsi mengontrol pelepasan hormon seks) lebih kecil dibandingkan hypothalamus Domba jantan heteroseksual/normal.

Temuan ini senada dengan hasil kajian Simon LeVay pada 1991 yang menyebutkan bahwa terdapat perbedaan struktur otak antara gay/homo dan para lelaki normal yang tertarik dengan wanita. (Beda otak homo dan otak normal)

LeVay berpendapat bahwa gen yang sama (berpengaruh pada perilaku homoseksual pada Domba jantan) pada Domba betina justru membuatnya menjadi lebih subur atau meningkatkan hasrat mereka untuk kawin.

Betina yang merupakan saudari dari Domba jantan homoseksual bisa menghasilkan lebih banyak keturunan dibanding jumlah rata-rata populasi.

“Jika pada betina berdampak menguntungkan, gen memiliki efek lebih penting dibanding Domba jantan, sehingga gen itu akan tetap bertahan”, kata LeVay.

Kecenderungan homoseksual Domba jantan yang seumur hidup ini hanya teramati pada Domba peliharaan. Belum jelas apakah hal yang sama juga terjadi pada Domba liar. Namun jika teori LeVay benar, maka kemungkinan justru tidak terjadi pada Domba liar.

Domba ternak dikembangbiakkan secara khusus oleh para peternak untuk memilah betina-betina yang bisa beranak secepat mungkin (termasuk yang membawa gen tadi), hal inilah yang mungkin meningkatkan jumlah kelahiran jantan homoseksual.

Kedua ilmuwan, baik LeVay dan Vasey tetap berpendapat bahwa hanya spesies manusia yang diklaim sebagai 'homoseksual murni' pada sebagian kecil individunya.

"Kasusnya bukan tentang adanya Bonobo lesbian atau Bonobo gay... Yang ditemukan adalah banyak hewan yang senang terlibat keintiman dengan mitra dari kedua jenis kelamin", jelas Vasey.

Dalam beberapa spesies ini dapat berlaku bahwa konsep orientasi seksual tidaklah valid. Mereka memiliki sistemnya sendiri antara hal-hal sosial dan seksual, serta menghadapi tantangan di alam.

Pada hewan, perilaku-perilaku seperti ini dianggap ilmuwan tidaklah menentang konsep evolusi dan seleksi alam. Hewan umumnya akan berkembang biak dengan jumlah anak sebanyak mungkin untuk kelestarian gennya.

Karena itulah dorongan seksual pada hewan cukup besar sehingga bisa memunculkan perilaku-perilaku sosial dan keintiman seperti pada Bonobo dan Monyet Jepang.

Namun yang jelas, tidak akan ditemukan perilaku hewan homoseksual seperti pada manusia.

Pada dunia hewan juga ditemukan anomali perilaku seksual tertentu, seperti pejantan tersisih yang kawin dengan betina spesies lain. Bahkan ada pula Rusa yang menunjukkan ketertarikan pada motor.

Homoseksual manusia bawaan gen?
Menurut ajaran agama seperti Islam, homoseksual dipandang sebagai perilaku penyimpangan dan dosa besar terlaknat.

Pada sosial manusia, perilaku bukan sekedar perilaku seperti pada halnya binatang, namun juga ditentukan oleh nilai dan moral.

Sementara mayoritas para ahli dan psikiater memandang bahwa perilaku homoseksual sebagai masalah kejiwaan yang dapat dimunculkan oleh berbagai faktor serta pengalaman sosial seseorang di lingkungannya.

Namun belum ada yang penemuan yang menyatakan perilaku homoseksual juga dibentuk dari bawaan gen.

Teori gen homoseksual pada manusia juga dipandang bertentangan dengan prinsip seleksi alam, sebab gen tersebut seharusnya cepat punah karena pembawanya akan gagal berkembang biak. (BBC/BBC Indonesia/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.