Kurs Dollar terhadap Dinar Irak menurut versi ISIS
Di tengah krisis keuangan yang mendera, kelompok ISIS di kota Mosul, Irak, dilaporkan menggunakan strategi kontrol perdagangan dan manipulasi nilai tukar antara mata uang Dollar Amerika dengan Dinar Irak untuk mengeruk keuntungan dari masyarakat lokal.

Upaya ini menjadi langkah "alternatif" putus asa setelah sejumlah gudang penyimpanan uang ISIS dihancurkan oleh serangan udara koalisi, sehingga menyebabkan kesulitan finansial.

Sejak Oktober 2015, koalisi pimpinan Amerika mengklaim berhasil menghancurkan sekitar 10 gudang uang kertas dan kekayaan milik ISIS, yang diperkirakan berisi ratusan juta Dollar.

Koalisi juga menekan kemampuan ISIS untuk menjual minyak yang merupakan sumber utama pendapatan kelompok pengikut "khilafah" Ibrahim al-Baghdadi ini.

Menurut koalisi, tanda-tanda kesulitan finansial terlihat dari laporan pemangkasan gaji militan ISIS. Rata-rata upah anggota ISIS disunat dari USD 400 (Rp 5,3 juta) menjadi setengahnya, sekitar USD 200 (Rp 2,6 juta) per bulan. Sedangkan gaji militan asing yang jumlahnya lebih besar juga dipotong.

Di tengah kesulitan yang mendera, ISIS menggunakan strategi moneter dan kontrol perdagangan untuk meraup mata uang kertas dari perputaran ekonomi penduduk lokal. Hal ini dapat terwujud karena ISIS memiliki kontrol kuat di semua sektor kehidupan kota, termasuk perekonomian.

ISIS akan mendapatkan Dollar dari penjualan berbagai bahan kebutuhan kepada penduduk, dari pabrik yang mereka kuasai. Produk ISIS dijual dalam kertas Dollar Amerika.

Sementara pengeluaran bulanan ISIS, seperti upah bulanan kepada para militan dan PNS di wilayah kekuasaannya, dilakukan dengan menggunakan Dinar.

"ISIS menjual (barangnya) pada para pedagang menggunakan Dollar, tapi mereka membayar gaji dalam Dinar yang diatur lebih kecil", jelas seorang karyawan kantor money changer di Mosul kepada Reuters pada awal pekan lalu.

Di sisi lain, untuk memperoleh keuntungan dari pertukaran uang, ISIS menetapkan kurs Dollar dan Dinar. Nilai Dollar versi ISIS ditetapkan lebih kuat terhadap Dinar, daripada versi pemerintah Irak.

Bahkan ISIS menetapkan "multikurs" atau banyak harga, yaitu tergantung pecahan Dinar yang dipakai untuk membeli Dollar. Makin kecil pecahan yang dipakai, maka makin mahal harga untuk membeli Dollar dari ISIS. (Lihat gambar di atas)

Jika menurut pemerintah Irak, USD 100 bernilai sekitar 118 ribu Dinar. Maka menurut aturan ISIS di Mosul, USD 100 bernilai 127.500 dinar, itupun jika ditukar dengan pecahan berbasis 25 ribu Dinar, lembar nominal terbesar di Irak.

Tapi ketika ditukarkan dengan lembar pecahan Dinar terkecil, yakni 250 Dinar, harga USD menjadi jauh lebih tinggi. USD 100 dapat bernilai 155 ribu Dinar.

ISIS juga lebih suka menggunakan pecahan dinar yang lebih besar karena lebih mudah dibawa.

Kepada Reuters, tiga padagang uang lainnya mengonfirmasi kebenaran strategi pertukaran mata uang versi ISIS ini, namun dengan syarat anonim. Dan tidak ada satupun pedagang money changer di sana yang berani menentang aturan ISIS.

Dengan strategi tersebut, ISIS akan terus memperoleh mata uang Dollar dari warga Mosul yang harus membeli berbagai kebutuhan sehari-hari darinya, karena berbagai pabrik penting dikuasai oleh "khilafah al-Baghdadiyah", sepeti pabrik semen, tepung dan tekstil.

ISIS kemudian meraup keuntungan ketika Dollar tersebut ditukarkan terhadap Dinar dari para pedagang mata uang.

Uang Dollar akan kembali dicari masyarakat umum untuk membeli barang ISIS. Dan begitu seterusnya perputaran ekonomi Mosul, dimana mata uang akan selalu berkumpul kepada ISIS.

Belum ada laporan mendetail mengenai jumlah total keuntungan ISIS Mosul dari strategi manipulasi kurs Dollar.

ISIS sendiri tidak memiliki kemampuan untuk mencetak mata uang Dollar, Dinar (Irak), serta Lira yang digunakan di wilayah mereka.

Mereka memperoleh mata uang kertas dari perdagangan minyak mentah dengan rezim Assad maupun mafia Turki. Juga ketika dana di bank-bank mereka ambil saat merebut Mosul. Tak heran, Barat menjuluki kelompok ini sebagai teroris terkaya di dunia.

Meski baru-baru ini, institusi moneter ISIS di Suriah mengklaim memproduksi mata uang "Dinar emas dan Dirham perak" yang sesuai Syari'at, untuk menghancurkan sistem riba dunia (mata uang kertas).

Namun hal tersebut dianggap hanya pencitraan dan omong kosong belaka oleh penolak ISIS di Suriah, karena para anggotanya terus digaji dengan Dollar. (Reuters/CNN Indonesia/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.