Pasukan Jabhah Nushrah
Setelah ibukota propinsi Idlib direbut dari rezim Asad akhir Maret 2015 oleh koalisi pejuang oposisi Jaisyul Fath, pemimpin Jabhah Nushrah (JN), Abu Muhammad al-Jaulani dalam pernyataan audionya menyatakan 3 hal penting:

1. Ucapan selamat kepada penduduk Idlib setelah bebasnya kota ini dari tentara Nushairiyah (pro Asad) dan berjanji bahwa JN hadir dengan akhlak yang baik dan sikap yang mulia bagi penduduk Idlib.

2. Penegasan bahwa JN tidak berambisi memonopoli kontrol kota atau menunjuk pihak lain secara sepihak. Namun hal ini (kontrol Idlib) akan diamanahkan kepada siapapun sesuai hasil musyawarah koalisi pejuang oposisi.

3. Pembentukan lembaga peradilan syari'ah serta lembaga penyuluhan/bimbingan dengan segera dan sebaik-baiknya yang terdiri dari koalisi pejuang oposisi untuk menyelesaikan segala ketertiban sipil dan urusan masyarakat.

Langkah Jabhah Nushrah ini dipandang bertolak belakang dengan ISIS (sempalan al-Qaeda), dimana ISIS berupaya memonopoli seluruh kekuasaan di bawah kaki Ibrahim al-Baghdadi. Upaya ISIS tersebut memunculkan konflik besar, pertama kali terjadi pada akhir 2013. Ketika itu ISIS memaksa semua kelompok oposisi berbaiat setia pada al-Baghdadi.

Menurut para pengamat, al-Qaeda berusaha "mereformasi" cara kerjanya sehingga membedakan diri dari si "anak durhaka", ISIS, yang dinilai haus darah dan kekuasaan. Al-Qaeda di bawah pimpinan Dr. Ayman Zawahiri mencoba mengambil pendekatan yang pragmatis, fokus dan kondisional. Yaitu merangkul dukungan atau mengambil hati masyarakat. Cara kerja terbaru al-Qaeda ini mirip dengan strategi politik gerakan "Ikhwanul Muslimin", dimana Dr. Ayman pernah terlibat di dalamnya. Ia juga meminta simpatisan al-Qaeda untuk tidak melakukan kebrutalan terhadap warga sipil (baik itu Alawite, Rafidhy, Kristen, Druze dan lain-lain). Alasannya agar tidak menimbulkan perlawanan lebih besar yang justru bisa menguntungkan pasukan musuh. Bahkan September 2014, JN pernah melepas begitu saja utusan penjaga perdamaian PBB di wilayah dataran tinggi Golan yang mereka tangkap.

Al-Qaeda akan membangun harmonisasi dengan kekuatan lokal, bahkan dengan rival demi mengontrol wilayah yang memiliki kepentingan tertentu. Kelompok lain yang dinilai melakukan kesalahan akan diberikan uzur dan juga nasehat versi mereka. Pendekatan ini mendatangkan berbagai keberhasilan bagi al-Qaeda. Yang paling signifikan adalah fenomena Jabhah Nushrah di Suriah. 


Membandingkan al-Qaeda satu dekade lalu yang mengandalkan propaganda "melawan kafir harbi dan sekuler" sehingga membangkitkan solidaritas kuat diantara para Jihadi dan Takfiri, namun tidak berarti apa-apa di mata masyarakat Islam dunia. Malah di dunia Islam, al-Qaeda menjadi identik sebagai pabrik "pembom bunuh diri" dan "takfiri". Kesan buruk ini didapatkan setelah berkali-kali anggota atau simpatisan al-Qaeda melakukan aksi bom bunuh diri di negara-negara aman yang mengakibatkan jatuhnya korban tidak bersalah.

Reformasi gerakan al-Qaeda di bawah Dr. Ayman dimulai dari Yaman melalui anak cabang mereka, AQAP (Al-Qaeda Arabian Peninsula). AQAP memulai dengan mendekati kabilah-kabilah Yaman dan memfasilitasi mereka menuju suatu tujuan sesuai roadmap AQAP. Cetak biru ini kemudian diterapkan di Suriah, dengan Jabhah Nushrah sebagai motornya. Al-Qaeda Suriah banyak belajar dari kesalahan perjuangan al-Qaeda di Irak yang banyak disusupi intelejen partai Ba'ats. Rentetan kesalahan perjuangan di Irak tersebut pada akhirnya melahirkan ISIS.

Pasca meletusnya revolusi, kondisi Suriah menguntungkan bagi al-Qaeda, dimana masyarakat Islam bangkit melawan pemerintah Basyar dan Syi'ah. Keadaan herois, Islamis, serta bernuansa perjuangan membuat JN berkembang pesat dengan mayoritas anggotanya asli Suriah meski terdapat beberapa anggota asing (muhajirin). Melalui langkah luwes para petinggi dan konseptornya, JN dapat bersekutu dengan faksi-faksi lainnya dan menerapkan fokus hanya pada perjuangan di dalam Suriah. Bahkan JN pernah menyatakan tidak akan meluaskan operasi keluar Suriah atau melawan barat secara langsung. Dalam wawancara dengan Al-Jazeera, JN menegaskan konfrontasi yang telah dan akan terjadi di luar Suriah adalah urusan al-Qaeda, bukan JN.

Afliasi JN dengan al-Qaeda membuat mereka dilabeli sebagai kelompok "teroris" oleh berbagai negara termasuk Turki dan Saudi (dua negara pendukung utama revolusi). Meski demikian, fakta di lapangan dalam perang melawan rezim Assad dan ISIS, faksi-faksi dukungan Turki maupun negara-negara Arab bisa mesra berkoalisi dengan JN.

Awal 2014, Jabhah Nushrah sempat pontang-panting ketika pecah kongsi dengan ISIS. Banyak anggota mereka ganti baju mendukung al-Baghdadi yang mendeklarasikan diri sebagai "khalifah". Namun al-Jaulani berhasil membangun ulang kekuatannya hingga berpuncak pada pembebasan ibukota propinsi Idlib dimana JN menjadi salah satu aktor paling berpengaruh dalam koalisi Jaisyul Fath.

Terkait penerapan syari'at Islam di Suriah, JN tidak mengandalkan pendekatan kekuatan serta aksi represif terhadap masyarakat. Mereka tahu Muslim di Suriah adalah kaum terzhalimi dan dijauhkan dari Islam oleh rezim Asad selama puluhan tahun. Pemaksaan hanya akan menimbulkan sikap mendua dari masyarakat. Di depan JN mereka tunduk dan patuh, namun di belakangnya mereka menolak keras. JN juga menggunakan pendekatan persuasif berupa dakwah intensif dan menyeluruh kepada masyarakat. Salah satunya soal menangani masalah rokok.


Hubungan JN dengan pemerintah negeri-negeri Muslim
Al-Jaulani menyatakan Jabhah Nushrah tidak memiliki hubungan dengan pemerintah negara manapun. Adapun dukungan yang diterima dari luar negeri sifatnya adalah bantuan pribadi. Secara visi global, mereka merupakan "anak ideologis al-Qaeda". Menginginkan "selurut umat Islam bersatu dengan mujahidin", untuk mencapai kejayaan Islam sebagaimana roadmap mereka.

Selain itu al-Jaulani juga menuduh pemimpin-pemimpin Arab hanya berusaha mempertahankan kekuasaannya saja dan terus menjual kekayaan bumi Islam pada Barat, mereka sama sekali tidak menolong kepentingan Islam. Satu-satunya yang diklaim JN akan membawa kejayaan Islam adalah dengan cara Jihad fi sabilillah, bukan politik atau apapun. Dengan pandangan yang sesuai induknya, tentu saja JN dianggap sebagai ancaman oleh pemerintah Arab dan Barat, namun dengan takaran lebih kecil daripada ISIS.

Kritik pada Jabhah Nushrah di Suriah
Oleh kelompok oposisi pro demokrasi, Jabhah Nushrah dan al-Qaeda seringkali dituduh sangat "lembek" terhadap ISIS, yang telah dianggap oleh JN sebagai Khawarij atau ghullat takfiri, namun sangat tegas terhadap kelompok yang dinilai sebagai "sekuler", "nasionalis", "pro demokrasi" dan "pro barat".

Hal ini terbukti dari perang terhadap SRF (pimpinan Jamal Ma'rouf) dan Harakah Hazm di wilayah Idlib dan Aleppo. Dalam waktu singkat JN berhasil menghancurkan organisasi SRF dan Hazm. Konflik yang mulanya adalah tuduhan penculikan dan pembunuhan terhadap para muhajirin oleh anggota SRF, serta berbagai tuduhan tindakan kriminal lainnya, dalam begitu cepat berkembang menjadi perang terbuka. Jabhah Nushrah langsung menyatakan perang pada "antek Barat", SRF dan Hazm. Konflik tersebut segera menghancurkan kedua kelompok itu di Idlib, Aleppo dan sekitarnya.

Sikap JN pada kelompok oposisi pro demokrasi tersebut berbeda dengan sikap mereka pada ISIS. Di awal konflik ISIS juga membunuh dan menculik tokoh-tokoh penting JN, bahkan merampas wilayah hingga mengirim bom bunuh diri. Namun berbagai upaya "islah", "nasehat", "korespondensi" terus diusahakan untuk mencegah pertumpahan darah. Ironisnya, walau sudah menjadi korban pembunuhan ISIS, saat itu al-Qaeda masih menahan diri untuk perang terbuka dengan ISIS karena memandangnya sebagai saudara yang dapat diajak berdamai. Dalih yang umum diajukan al-Qaeda adalah "ISIS masih muslim". Deklarasi perang terbuka JN pada ISIS baru dilaksanakan Agustus 2015, oleh pernyataan Syaikh al-Mishri.

Baru-baru ini JN kembali dikritik karena titik-titik aset operasional mereka berada sangat dekat dengan keramaian warga sipil. Walau hanya gedung pengadilan sipil, bagi koalisi Amerika, keberadaan aset tersebut sudah cukup menjadi pembenaran untuk menjatuhkan bom. Dimana hasilnya malah lebih banyak menghabisi warga sipil daripada anggota JN. Pada fase serangan udara Rusia baru-baru ini, kritik tersebut muncul kembali. Namun JN bertindak cepat dengan memindahkan lokasi operasional mereka menjauhi keramaian warga sipil.

Kritikan kali ini nyaris tidak terdengar sebab langkah JN yang berkaca pada kesalahan masa lalu, juga antisipasi kebrutalan Rusia yang terang-terangan membantai di lokasi warga sipil tanpa peduli ada atau tidaknya aset militer di sana. Terbukti pada hari Sabtu ini (9/1), sebuah penjara sipil di Ma'arat Nu'man dibom oleh Rusia, sehingga membunuh puluhan orang.

(Dari berbagai sumber, oleh redaksi Risalah)

Syaikh Abu Mujahid Al-Mishri
Syaikh Abu Mujahid Al-Mishri
Syaikh Abu Mujahid Al-Mishri
Syaikh Abu Mujahid Al-Mishri
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.