Pertempuran Wadi Rum, 1917
Pada masa perang dunia pertama, Turki Utsmaniyah memihak blok sentral yang dimotori oleh Jerman, yang berperang melawan blok sekutu. Sedangkan Inggris yang berada di pihak sekutu saat itu mulai melancarkan strategi mengalahkan Utsmaniyah dari dalam. Terlebih pemerintahan pusat Turki mulai menimbulkan berbagai ketidakpuasan dari daerah-daerah kekuasaan mereka, termasuk bangsa Arab yang merupakan motor perkembangan Islam sejak awal.

Dimulai pada tahun 1908 gerakan Turki muda (digawangi Kemal Ataturk) mulai menampakkan pengaruhnya yang bercita-cita melakukan pembaruan dan melumpuhkan kekuasaan Sultan Utsmaniyah, menuju nasionalisme bangsa Turki dengan berkiblat Barat (sekuler). Menimbulkan sikap diskriminatif pada bangsa lain di wilayah Utsmaniyah.

Syarif Husein (Mekkah) sendiri, seorang Sufi penguasa wilayah Hejaz dan sekitarnya, memiliki cita-cita membebaskan bangsa Arab dari "penindasan" Kekhalifahan Turki Utsmaniyah yang memang sudah dianggap "sakit". Syarif Husein menjadi konseptor kebangkitan nasionalisme Arab, bertujuan untuk mendirikan sebuah negara tunggal bangsa Arab dari Aleppo hingga Aden. Negara impian ini juga akan memperjuangkan cita-citanya dengan asas Islam.

Pada bulan Juni 1916, sang Sufi Hasyimiyah yang bekerja sama dengan Inggris dan Prancis, mulai mengobarkan 'Arab Revolt', sebuah pemberontakan melawan Turki. Putra-putra Syarif Husein, Abdullah dan Faisal, juga turun memimpin pasukan Arab menyerang hingga ke Aleppo.

Ada satu nama terkenal yang menjadi penasehat militer sekaligus kepanjangan tangan sekutu bagi keluarga Hasyimiyah, yaitu agen Inggris bernama T. E. Lawrence atau dikenal sebagai "Lawrence of Arabia".
Faisal (depan) dan Lawrence dalam pertemuan Paris 1919
Sedikit demi sedikit pemberontakan keluarga Hasyimiyah berhasil menaklukkan pasukan Turki di tanah Arab. Pasukan Faisal bin Husein dan sekutu Eropanya akhirnya berhasil membebaskan Damaskus dari pemerintahan Utsmani pada tahun 1918. Selain itu, Turki Utsmaniyah juga menderita kekalahan dalam perang dunia I.

Gencatan senjata Mudros mengakhiri perlawanan pasukan Utsmani di kawasan Timur Tengah. Setelah harus melawan pihak sekutu yang berkolaborasi dengan pemberontakan Arab. 

Pemicu 'Arab Revolt' tidak lepas dari lobi Inggris meyakinkan Syarif Husein untuk segera memberontak melawan Turki. Dalam korespondensi antara Sir Henry McMahon (pejabat Inggris di Mesir) dan Syarif Husein, pada tahun 1915-1916, Inggris terus membujuk pemberontakan Arab dan berjanji akan mendukung semuanya, hingga Arab memperoleh kedaulatan setelah merdeka dari Turki. Ketidaksepakatan keduanya hanya soal wilayah-wilayah mana yang akan menjadi milik pasukan Arab nanti.

Akan tetapi Inggris dan Perancis sudah memiliki agendanya sendiri untuk memecah-mecah wilayah Utsmaniyah. Yaitu melalui perjanjian rahasia Sykes-Picot. Melibatkan kekaisaran Rusia, mereka sepakat berbagi wilayah Turki yang digariskan batas-batasnya. Untuk kawasan Arab, Inggris akan mendapatkan Trans Jordan dan Irak, sementara Perancis mendapat Suriah dan Lebanon. Serta satu wilayah khusus yang disebut Palestina di bawah pengawasan internasional.

Tentu saja isi perjanjian Sykes-Picot bertentangan dengan janji-janji Inggris sebelumnya menurut tafsiran pihak Syarif Husein, bahkan dinilai menguntungkan Zionis. Apalagi muncul deklarasi Balfour, dimana Inggris menjanjikan tanah air bagi Yahudi (Zionis) di kawasan Palestina. 

Pasca kalahnya Turki, perjanjian Sykes-Picot direalisasikan, dengan sedikit mengalami perubahan pada prakteknya. Di tahun 1919 juga terjadi perjanjian Faisal-Weizzman, yang intinya Arab setuju masuknya Yahudi ke kawasan Palestina untuk memajukan perekonomian setempat. (Lihat: Perjanjian Faisal dengan tokoh Zionis)

Keluarga Hasyimiyah di bawah Faisal bin Husein sempat mengklaim pemerintahan kerajaan Arab pada tahun 1918 yang berpusat di Damaskus, Suriah. Namun kerajaan ini tidak disukai Perancis, sehingga pada tahun 1920 Suriah berhasil direbut dalam perang Misalun. Suriah ditetapkan mandat Perancis di Suriah dan Lebanon oleh Liga Bangsa-Bangsa (LBB). Saudara Faisal, Abdullah bin Husein, sempat berencana untuk merebut kembali Suriah, namun diurungkan karena mandat Perancis diakui dunia Barat (saat itu).

Digusur di Suriah, Faisal kemudian mendapat ganti rugi dengan "tukar guling" penguasaan wilayah Irak yang telah berada di bawah mandat Inggris. Kerajaan Inggris adalah sekutu keluarga Hasyimiyah saat melawan Utsmani. Di Irak, Faisal dan keluarganya mendapat status semi otonom, hingga selanjutnya merdeka dari Inggris pada tahun 1932. Namun setelah kematiannya, kondisi politik Irak mulai memanas. Jejak kerajaan Hasyimiyah di Irak akhirnya tak bersisa setelah kekuasaan Faisal II dihancurkan oleh kaum nasionalis kiri pada 1958.

Hampir bersamaan dengan Irak yang diberikan pada Faisal, Inggris juga menyerahkan wilayah Trans Jordan di bawah Abdullah bin Husein. Hingga berakhirnya mandat Inggris, Yordania sepenuhnya di bawah keluarga raja Abdullah I.

Sekarang, keluarga Hasyimiyah hanya berhasil berkuasa atas negara Yordania. Pada tahun 1925, Hejaz (Mekkah dan Madinah) berhasil direbut sepenuhnya oleh dinasti Saud yang berpaham Ahlusunnah-Wahabiyah dan kini menjadi wilayah Arab Saudi.

Syarif Mekkah, pencetus 'Arab Revolt' melawan Turki, meninggalkan Hejaz pada tahun 1924 setelah terdesak oleh pasukan Ibnu Saud dari Nejd, Inggris tidak membantunya saat diserang Saudi. Ia meninggalkan putranya Ali atas kontrol Mekkah, Syarif Husein pergi terasing ke Siprus dan kemudian wafat di Amman (saat masih administrasi Trans Jordan) pada tahun 1931.

(Sumber: Sejarah Yordania)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.