Serangan terjadi di Kafr Zita, utara Hama
Serangan udara membunuh setidaknya 8 petugas respon cepat Pertahanan Sipil Suriah (White Helmet) di provinsi Hama, Sabtu (29/4).

Serangan udara menghantam pusat penyelamat di Kafr Zita, utara Hama.

Warga sipil yang bergegas ke TKP untuk membantu juga ikut terkena serangan, menurut posting Twitter Pertahanan Sipil Suriah.

Lima mayat berhasil diangkat dari reruntuhan, sementara tim penyelamat terus mencari yang lain

Kelompok pemantau SOHR menyatakan jika jumlah korban jiwa kemungkinan akan meningkat karena misi pencarian berlanjut.

Belum diidentifikasi siapa yang melakukan serangan, namun rezim Assad dan Rusia selalu menargetkan daerah oposisi.

Serangan udara adalah satu hal paling mematikan bagi para penyelamat yang beroperasi di daerah oposisi.

Relawan sering menjadi sasaran serangan udara rezim yang dikenal sebagai "double tap", atau saat mereka berupaya menyelamatkan korban, maka datanglah serangan susulan di TKP.

Pertahanan Sipil beroperasi di sebagian besar wilayah oposisi Suriah. Mereka menarik perhatian dunia karena beroperasi di situasi ekstrim.

White Helmet dengan berani menarik korban selamat dan mayat di tengah puing. Bahkan dokumentasinya diganjar piala Oscar.

Pendukung Assad dan blogger Rusia sering menuduh kelompok ini "sebagai bagian dari al-Qaeda" dan "merekayasa kejadian", bermodal foto yang dicocok-cocokkan. (Al-Jazeera/rslh)
Seorang Raja Saudi dimakamkan secara sederhana
Selama berabad-abad, semenanjung Arab memainkan peran penting dalam sejarah dunia, terutama sebagai jalur perdagangan kuno, dengan puncaknya adalah kelahiran Nabi Muhammad (Rasul terakhir Islam).

Setelah 11 abad mengalami pergiliran kekuasaan di internal umat Islam, semenanjung Arab akhirnya beralih ke tangan keluarga Saud.

Kini mereka memiliki negara yang diberi nama Arab Saudi dan memiliki konstitusi yang harus sesuai Al-Qur'an dan Sunnah.

Transformasi Saudi terbilang menakjubkan, sejak Raja Abdulaziz al-Saud mendirikan Kerajaan Saudi modern tahun 1932 dengan sebagian besar wilayah hanya gurun pasir.

Hanya beberapa dekade, Kerajaan Sunni ini sukses mengubah wajahnya: Dari bangsa gurun pedalaman menjadi negara modern yang canggih, bahkan menjadi pemain utama di pentas internasional.

Kekayaan minyak dan potensi tambang lain tersingkap sedikit demi sedikit. Puncak kenyamanan ekonomi diraih di masa Raja Abdullah.

Saat itu, harga minyak dunia mencetak rekornya dan terus berada di level tinggi (> USD 1000) selama beberapa tahun. Menyebabkan cadangan devisa Saudi membengkak.

Militer Saudi mulai mengalami fase modernisasi pasca perang Teluk, di masa Raja Fahd. Hal itu terus berlanjut hingga saat ini di bawah Raja Salman. Belanja militer mencapai rekor tahun 2015 di urutan 3 dunia setelah AS dan China.

Negara Saudi Pertama (I)
Di awal abad ke-18, seorang Ulama pembaru Islam bernama Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi mulai mengampanyekan pemurnian praktek Islam berdasar Al-Qur'an dan Sunnah sesuai "manhaj Salaf".

Para pengkritik menyebut gerakan Syaikh bin Abdul Wahhab sebagai "Wahabi".

Namun dalam kajian ilmiah, ide-ide dakwah ini selaras dengan strategi Syaikhul Ibnu Taimiyah saat menghadapi persoalan ke-Islaman di masanya.

Mulanya, Syaikh bin Abdul Wahhab ditentang oleh ulama dan tokoh lainnya, karena dakwahnya dianggap sebagai ancaman terhadap bagi tradisi sosio-reliji mereka.

Akhirnya Syaikh menemukan perlindungan di kota Diriyah, yang dikuasai oleh Muhammad bin Saud, pemimpin klan pedalaman gurun.

Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad bin Saud mencapai kesepakatan. Keduanya mendedikasikan diri untuk mendakwahkan pemurnian Islam kepada kaum Muslimin.

Ikatan kekeluargaan dibentuk melalui pernikahan. Ibnu Saud menikahi putri Syaikh.

Ciri dakwah Wahabi adalah memerangi takhayul, bid'ah dan khurafat (TBC) yang sudah mendarah daging di kalangan umat Islam.
Praktik yang dianggap menyimpang misalnya pengkultusan kuburan. Dimana kuburan tokoh-tokoh "wali" dikeramatkan, serta dibangun megah.

Bagi kaum Sufi ekstrem, selain diziarahi, kuburan keramat bisa menjadi sarana mengunduh berkah, perantara doa oleh orang sholeh yang dikubur, mendatangi kuburan saat ada masalah, curhat dan sebagainya.

Sementara dakwah Salafi mengkritik keras aktivitas itu karena bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah.

Bukan sekedar TBC, pengkeramatan kuburan dipandang telah menjurus pada kesyirikan.

Gerakan ini juga mengkritik cara bernegara Turki Ottoman dan politiknya, yang dinilai tak lagi merepresentasikan Islam.

Perselisihan Salafi-Wahabi vs Sufi-Asyariyah di era ini mengingatkan lagi di masa Ibnu Taimiyah, ketika kaum Asyariyah berselisih keras dengan sebagian Hanabilah.

Namun, Salafi tak sembarangan memvonis mereka sebagai musyrik dan ahlul bid'ah, karena diberikannya uzur pada pelaku perbuatan yang dianggap menyimpang.

Uzur yang dimaksud adalah karena ketidaktahuan (jahil) dan syubhat. Masyarakat yang melakukan tidak mengetahui, tidak sadar atau adanya syubhat yang mengecoh pikirannya.

Syaikh menegaskan, dakwahnya bukan untuk bermudah-mudah dalam memvonis, melainkan untuk menegakkan hujjah kepada kaum Muslimin.

“Terkait takfir (vonis kafir), maka saya mengkafirkan orang yang mengetahui agama Rasulullah, kemudian setelah mengetahuinya ia mencelanya dan memusuhi orang yang menjalankannya. Orang inilah yang saya kafirkan, dan kebanyakan umat (Islam) tidaklah seperti itu”, (Ar-Rasaail Asy-Syakhsiyyah, hal. 38).

Dengan semangat itulah, Ibnu Saud berhasil mendirikan Negara Saudi I, tumbuh berkembang di bawah bimbingan spiritual Syaikh bin Abdul Wahhab.

Ibnu Saud wafat pada 1765, digantikan putranya Abdulaziz yang makin menguatkan kerajaannya. Di tahun 1788, dataran tinggi Nejed berhasil dikuasai.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab meninggal dunia pada 1792.

Setelahnya, di awal abad ke-19, pengaruh gerakan Wahabi dan klan Saud meluas ke sebagian besar Jazirah Arab, termasuk Mekkah dan Madinah.

Klan Saud dan dakwah Wahabi yang berasal dari pedalaman gurun memperoleh kegemilangan selama beberapa tahun.

Menghancurkan simbol-simbol kekeramatan di tanah suci. Terutama bangunan yang membungkus tanah kuburan.

Pasukan Saud pun meluaskan wilayah hingga pinggiran Syam dan Irak.

Berbagai serangan mereka berhasil meratakan banyak situs keramat Sufi dan Syi'ah, termasuk makam al-Husain (Radhiyallahu Anhu) di Karbala, yang paling disucikan Syi'ah melebihi Mekkah.

Serbuan juga berhasil meraih banyak rampasan perang. Ribuan Syi'ah dilaporkan tewas dalam bentrokan di Karbala dan Najaf.

Tahun 1803, Amir Abdulaziz terbunuh di tangan seorang Syi'ah Irak yang melakukan balas dendam.

Kemajuan kekasaan al-Saud dipandang sebagai masalah oleh kekhalifahan Turki yang saat itu menjadi superpower di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Bagi Turki, diambilnya Mekkah dan Madinah oleh orang gurun adalah cambuk memalukan.

Strategi klan Saud yang meluaskan wilayah terlalu jauh akhirnya menjadi blunder.

Pasalnya, mereka kalah jauh secara sumber daya dibanding sang superpower, Turki Utsmani atau Ottoman (ejaan Barat).

Konflik 2 negara (de facto) Muslim, terjadi. Provinsi Ottoman Mesir diperintah sebagai eksekutor perang melawan pasukan al-Saud.

Dipimpin Muhammad Ali Pasha, Ottoman Mesir mulai menekan klan Saud pada 1811. Lalu di tahun 1813, Mesir berhasil merebut Mekkah dan Madinah.

Tahun 1818, Ottoman mengirim pasukan besar yang dipersenjatai artileri modern dan pasukan multi-etnik (termasuk tentara bayaran) mengepung Diriyah, ibukota Negara Saudi I.

Kerajaan Saud akhirnya hancur lebur. Bahkan, Ulama penerus Syaikh Ibnu Wahhab turut dibunuh, yaitu Syaikh Sulaiman bin Abdullah.

Penguasa Diriyah, Abdullah al-Saud, beserta keluarganya ditawan untuk dibawa ke Mesir. Tapi Abdullah diarak ke Istanbul, dan dieksekusi mati oleh pemerintah Ottoman.

Di Nejed, Ottoman membuat kesepakatan dengan klan-klan lokal non Saud.

Sayangnya, mereka juga menerapkan kebijakan keras bagi warga. Seperti eksekusi tawanan, meruntuhkan bangunan kota-kota di Nejed hingga penarikan upeti.

Di bawah Ottoman, kaum minoritas seperti Sufi, Kristen, Yahudi dan Syi'ah kembali menghirup kebebasan mempraktekkan apa yang mereka inginkan.

Daerah Hejaz ramai lagi dengan orang asing dan non Muslim. Tabuhan musik menggema. Bahkan alkohol beredar secara terbatas, kecuali Mekkah dan Madinah.

Sedangkan di Nejed, klan-klan pengikut dakwah Wahabi, mencoba tetap mempraktekkan syariat Islam dengan ketat. (Sumber: buku 'The Story of Saudi Arabia', halaman 76)

Negara Saudi Kedua (II)
Tahun 1824, keluarga Saud kembali muncul secara politis di tengah jazirah Arab. Turki bin Abdullah al-Saud mengambil ulang daerah itu. Serta coba menggalang dukungan dari klan-klan Wahabi yang ada.

Sebagai penguasa baru, ia memindahkan ibukota ke Riyadh, sekitar 20 mil selatan Diriyah, dan mendirikan Negara Saudi jilid II.

Selama 11 tahun masa pemerintahan, Turki al-Saud sedikit demi sedikit berhasil merebut kembali sebagian tanah pendahulunya.

Di bawah kepemimpinannya dan sang putra, Faisal, Negara Saudi II sempat menikmati masa damai dan sejahtera selama selama beberapa tahun. Sektor perdagangan dan pertanian berkembang.

Menurut situs Kerajaan Arab Saudi, selain merebut ulang wilayah, Raja Turki al-Saud juga ingin memastikan rakyatnya menikmati hak dan kesejahteraan.

Gejolak politik lain terjadi, tahun 1831, Mesir membelot dari Ottoman. Di bawah Muhammad Ali Pasha, mereka mendeklarasikan kemerdekaan yang meluncurkan perang melawan Sultan di Istanbul.

Selama beberapa tahun hubungan antara Mesir dan Ottoman sangat unik.

Kedaulatan Mesir tidak diakui internasional. Meski sudah independen seperti sebuah negara, secara de jure Mesir masih provinsi Ottoman.

Akan tetapi, penguasa Mesir makin lama makin lemah, pengaruh Inggris menguat, hingga jatuh 'lah wilayah itu ke tangan Inggris di abad 20.

Kembali ke Nejed, konflik multi-side kekuatan internasional muncul di Timur Tengah. Mesir yang membelot, Ottoman dan campur tangan Barat di Afrika Utara, beriringan dengan perkembangan Negara Saudi II.

Mesir sepenuhnya menarik diri dari masalah di semenanjung Arab pada 1940.

Ketenangan Saudi mulai terganggu pada 1865 oleh, Ottoman yang ingin memperluas lagi pengaruhnya hingga di Semenanjung Arab.

Perselisihan pun terjadi di antara anggota keluarga Saud yang berebut kekuasaan. Secara umum, negara ini lebih lemah dari pendahulunya.

Pasukan Ottoman sukses merebut sejumlah wilayah-wilayah Negara Saudi II di masa Abdulrahman bin Faisal.

Dengan dukungan Ottoman pula, Keluarga al-Rasyid bangkit menjadi saingan, dan berupaya menggulingkan kekuasan klan Saud.

Menghadapi jumlah tentara yang lebih besar, Abdulrahman terpaksa menarik diri dari perjuangannya mempertahan Negara Saudi, tahun 1891. Maka berakhirlah Negara Saudi II.

Ia mencari perlindungan dari suku-suku Badui nomaden di gurun Arab timur, dikenal dengan nama Rub 'Al-Khali' atau 'Empty Quarter'.

Abdulrahman dan keluarganya kemudian melanjutkan perjalanan ke Kuwait, menetap hingga tahun 1902.

Ia memiliki putra, Abdulaziz, seorang pemimpin politik Islam yang mewarisi jiwa kepemimpinan dari moyangnya.

Kerajaan Arab Saudi (modern)
Abdulaziz bertekad merebut tampuk kekuasaan di Riyadh yang direbut oleh keluarga al-Rasyid dari keluarganya. Saat itu, mereka telah mendirikan kegubernuran dan garnisun (pertahanan kota) di sana.

Tahun 1902, Abdulaziz bersama 40 pengikutnya melakukan perjalanan malam ke Riyadh untuk merebut kembali basis garnisun kota, dikenal sebagai Benteng Masmak.

Peristiwa ini menandai dimulainya Arab Saudi modern yang bertahan hingga hari ini.

Setelah merebut Riyadh sebagai markasnya, Raja Abdulaziz berhasil menduduki semua wilayah Hijaz, termasuk Mekkah dan Madinah, pada 1924 hingga 1925.

Ia berhasil menghimpun klan-klan yang kerap berselisih menjadi terpimpin. Strategi pernikahan kembali digunakan untuk mempersatukan. Pasukan pendukung Abdulaziz dikenal dengan nama al-Ikhwan.

Pemberontakan Syarif Hussein melawan Ottoman dengan dukungan Inggris, justru menjadi bumerang. Raja Abdulaziz memanfaatnya untuk menyingkirkan keluarga Hasyimiyah yang ditipu Inggris.

Syarif Hussein kecewa dengan Inggris, karena wilayah Syam ternyata dipecah-pecah pasca Perang Dunia I. Padahal dirinya memberontak karena ingin semua tanah Arab lepas dari bangsa Turki dan mendirikan sebuah negara dari Yaman hingga Aleppo.

Inilah blunder sang penguasa Mekkah yang menguntungkan penguasa Riyadh.

Pada 23 September 1932, negara baru itu resmi diberi nama Kerajaan Arab Saudi.

Sebuah negara Islam dengan bahasa Arab sebagai bahasa nasional, sementara Al-Qur'an dan Sunnah sebagai konstitusi tertinggi.

Meski kerap tak disukai oleh firqah Islam non-Wahabi, tapi secara de facto hampir semua firqah itu mengakui Saudi modern sebagai negara Islam.

Arab Saudi jadi negara paling pertama yang disebut karena diharapkan pertolongannya jika ada masalah umat.

Palestina dibom, kemana Saudi?
Pengungsi Suriah, kemana Saudi?
Bencana alam, kemana Saudi?
Yaman, kemana Saudi?

Karena tak ada lagi negara Islam trans-nasional seperti Turki Ottoman, Arab Saudi diinginkan bisa menjadi pemain global untuk umat Islam.

Kaum Nejed pasca Ibnu Abdul Wahhab
Salah satu kritik terbesar terhadap perkembangan kekuasaan Saudi adalah dakwah Nejed, atau generasi setelah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Mereka dipandang sangat keras dalam mengkafirkan dan loyal kepada kekuasaan bani Saud.

Perselisihan Saudi dengan Ottoman diyakini menjadi sebab kerasnya sikap kaum Nejed. Seperti pengkafiran dan pemusyrikan terhadap penguasa Turki, alasannya adalah bekerja sama dengan orang kafir (Barat).

Kelompok dakwah ini sangat ekstrim dalam menyikapi kaum Sufi dan Asyariyah (pentakwil sifat Allah). Kaum Nejed pun menentang keras keluarga al-Rasyid.

Di masa kini, Ulama-Ulama Salafi Saudi sendiri turut mengkritik tajam keghuluwan dakwah Nejed.

Diantara kesalahan kaum tersebut adalah ketiadaan uzur jahil dalam vonis kafir pada seseorang.

Seseorang yang didapati melakukan amalan kesyirikan langsung divonis di luar Islam.

Jika ia tidak tahu larangan kesalahan tersebut, maka kondisinya seperti ahlul fatrah (tidak tahu risalah agama). Jika ia tahu, maka langsung murtad dan halal darahnya.

Penegakan hujjah hanya sebatas memberi tahu (menyampaikan), tanpa penjelasan agar paham.

Inilah 2 alasan dakwah Nejed menjadi sangat keras. Di masa kini, mereka turut disalahkan atas lahirnya kelompok ultra ekstremis, ISIS.

Sejumlah tokoh takfiri pun muncul karena membaca karya-karya gagasan ulama Nejed.

Arti Wahabi
Secara harafiah, Wahabi adalah penisbatan dari nama belakang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, yang ingin mendakwahkan pemurnian agama kepada kaum Muslimin, agar sesuai manhaj Salaf.

Wahabi memiliki ciri umum seperti Muslim Sunni lain:

1. Mengimani sifat-sifat Allah berdasar arti bahasa tanpa takwil (kecuali ada dalilnya), pemisalan, penyerupaan dan penafian

2. Tegas menyerukan penerapan syari'at Islam

3. Melawan bid'ah, khurafat, takhayul, syirik, maksiat dan hal-hal yang bertentangan dengan Islam lainnya

4. Anti pengkultusan kuburan dan pembangunannya

5. Anti Syi'ah Rafidhah, Murji'ah, Ahmadiyah, Khawarij (ISIS), sekuler, liberal dan sebagainya

6. Selalu mengingatkan umat Islam tentang poin-poin pembatal ke-Islaman

7. Mengajak pada pemahaman Wala' Bara' yang benar

8. Dasar fiqih yang digunakan adalah Hanbali
Acara Istighosah pimpinan Nuril Arifin diedit menjadi versi Naruto oleh netizen (sumber FB)
Sebuah acara istighosah yang dipimpin tokoh Gusdurian, Nuril Arifin, membuat netizen Muslim terperangah.

Pasalnya, para peserta yang semuanya laki-laki bertelanjang dada dan di punggung mereka dicoreti spidol berisi rajah tertentu.

Video yang diunggah FP Kongkow Bareng Gusdur menjelaskan ritual tersebut sebagai 'Wifiq', atau tulisan atau rapalan dengan klaim akan mendatangkan keajaiban/kesaktian tertentu bagi penerimanya, seperti kebal senjata.

Nuril Arifin memimpin ritual yang dianggap aneh netizen
Coretan di punggung peserta bahkan dianggap mirip dengan segel di tubuh Naruto, tokoh komik buatan Jepang.

Mereka keheranan dengan ritual yang dianggap tak ada kaitannya dengan ajaran Islam.

"Sebagai laskar kotak kotak militan apakah mbah Nuril ini sedang melakukan ritual segel ghaib dalam praktek Kuchiyose No Jutsu untuk memanggil siluman kecebong super ataukah memanggil finding Nemo? Ataukah mau mensummon Finding Dory?", tulis seorang netizen berakun Ardha Topan, mencaption gambar Nuril dan muridnya.

"Sesat dan menyesatkan.. Adakah ajaran Nabi (Muhammad) seperti ini?", tulis netizen lain.

"Makanya kalo belajar agama panduannya dengan Al-Qur'an & Hadist jangan panduannya dengan para syetan-syetan seperti ini.....jadinya kesyetanan semua yang hadir", kritik netizen berinisial ARW.

Dalam videonya, Nuril memerintahkan pengikutnya melakukan sejumlah gerakan. Seperti menoleh ke kiri dan kanan, hingga mengangkat tangan.

"Dan jagalah punggung mereka dengan malaikat Mikhail..", ujar Nuril dalam rapalan doanya sambil menginstruksikan gerakan tertentu pada para pengikutnya.

Dalam ucapannya, ia berharap para muridnya ini dilindungi dari "bahaya senjata tajam dan senjata tumpul".
Data simulasi dari detektor partikel Large Hadron Collider yang menunjukkan produksi Higgs boson dari tabrakan dua proton
Umat Islam diwajibkan untuk mengimani Hari Akhir. Memang tidak ada yang tahu kapan hal ini akan terjadi, tapi berbagai tanda dan perintah mengimaninya telah Allah hadirkan dalam kitab suci Al-Qur'an dan hadits.

Memang sulit menghubungkan antara sains dan agama, karena agama menggunakan bahasa wahyu yang digunakan di semua zaman oleh pemeluknya.

Sementara sains merinci proses yang terjadi dengan kemungkinan kebenaran bertingkat, sesuai teori yang ditemukan dan fakta pendukung.

Dalam kehancuran kiamat, langit akan digulung oleh Allah.

Ternyata, di mata ilmuwan sekuler, konsep kehancuran alam semesta secara instan dan total sudah diprediksi kemungkinannya, tapi bukan prediksi kapannya.

Beberapa fisikawan ternama seperti Stephen Hawking yang Atheis, percaya kehancuran semesta bisa dimulai oleh suatu partikel bernama Higgs Boson.

Materi Higgs Boson, atau yang juga dijuluki sebagai "Partikel Tuhan", merupakan pengembangan dari teori fisikawan bernama Peter Higgs, sekitar 50 tahun silam.

Materi ini awalnya belum dipastikan. Indikasi keberadaannya ini hanya muncul secara teoritis dari Model Standar Fisika Partikel.

Namun, para ilmuwan Organisasi Riset Nuklir Eropa (CERN) pada 2012 lalu berhasil menemukan partikel yang mirip Higgs Boson atau kandidatnya, berdasarkan hasil percobaan dengan menabrakkan dua proton berkecepatan mendekati cahaya.

Boson adalah sebutan bagi partikel-partikel yang cenderung menggerombol dengan partikel sejenisnya.

Sedangkan Higgs Boson adalah Boson yang juga bisa berinteraksi dengan partikel-partikel lain dan menyebabkan partikel itu memiliki massa.

Inilah alasan ia dijuluki "partikel Tuhan", karena berperan dalam pembentukan alam semesta.

Perlu diketahui, dalam pembentukan alam semesta (proses kosmologi), gaya gravitasi merupakan gaya yang berperan paling penting dalam skala kosmik.

Gravitasi terjadi dengan syarat partikel memiliki massa. Menurut Relativitas Umum Einstein, gravitasi berasal dari massa yang "melengkungkan" ruang-waktu.

Namun, menurut Hawking, pada level energi tertinggi, partikel Higgs bisa menjadi tak stabil sehingga mengakibatkan malapetaka besar. Takkan ada lagi ruang dan waktu, karena dimensi fisik ini akan runtuh.

"Higgs berpotensi merubah masa depan dunia karena mungkin menjadi tidak stabil pada energi di atas 100 miliar giga-elektron-volts (GeV)", tutur Hawking dalam buku astronomi Starmus.

Dalam kondisi tersebut, akan terjadi fluktuasi kuantum yang menciptakan gelembung vakum di alam semesta.

Karena energinya rendah, gelembung akan mengembang dengan kecepatan cahaya dan menyapu semua yang ada di hadapannya.

"... dan ini berarti kehancuran dunia. Itu bisa datang kapan saja tanpa kita menyadarinya", menurut Hawking.

Bahkan, jika medan Higgs di dalam gelembung sedikit lebih kuat dari sekarang, ia bisa mengecilkan atom, menghancurkan inti atom, sehingga hidrogen menjadi satu-satunya unsur yang bertahan di alam semesta, menurut Gian Giudice, fisikawan teoritis di laboratorium CERN, berbicara pada 2013 lalu.

Tapi, para ilmuwan menegaskan, keberadaan Higgs Boson dalam skala tertentu tidak dapat menghancurkan semesta.

Sumber dari : LiveScience, Sains Kompas, Liputan6
Ilustrasi (Reuters)
Telah terjadi serangan lintas batas antara militer Turki dan YPG Kurdi minggu ini.

Komandan milisi YPG Kurdi Suriah Sharvan Kobani pada Jumat (28/4) pastikan pasukan AS mulai memantau situasi di perbatasan Suriah-Turki.

Pemantauan tersebut belum dimulai, tutur Kobani setelah bertemu dengan pejabat militer AS di kota Darbasiya, perbatasan Turki.

Pejabat tersebut melakukan tur ke Darbasiya, daerah yang terkena serangan artileri Turki pada awal minggu ini.

Pesawat tempur Turki melakukan serangan udara terhadap militan Kurdi di wilayah timur laut Suriah dan wilayah Sinjar Irak pada Selasa (25/4). Serangan ditargetkan pada kelompok terkait teroris PKK.

30 milisi dan pejabat YPG tewas, menurut kelompok pemantau.

Sejak Selasa lalu, baku tembak tak terelakkan antara YPG dan pasukan Turki di sepanjang perbatasan Suriah-Turki.

Serangan Turki pada posisi YPG mempersulit perang AS melawan ISIS di Suriah. YPG menjadi mitra utama di medan tempur yang "memanen" wilayah ISIS.

YPG adalah komponen kunci Pasukan Demokratik Suriah (SDF), aliansi milisi dukungan AS yang terlibat dalam operasi mengusir ISIS dari Raqqah, Suriah.

Namun, Turki memandang YPG dan kelompok afiliasi PKK lainnya sebagai teroris.

Juru bicara Pentagon, Kapten Jeff Davis mengatakan bahwa pasukan AS akan ditempatkan di sepanjang perbatasan.

"Kami terus mendesak semua pihak yang terlibat agar fokus pada musuh bersama yaitu ISIS", ujarnya.

Ratusan tentara AS ditempatkan di Suriah dalam melakukan serangan Raqqah mendukung SDF. (Reuters)
Aarab Marwan Barghouti, anak dari tokoh tahanan Palestina Marwan Barghouti (AlJazeera)
Ratusan orang di media sosial Arab memposting video dalam kampanye "Saltwater Challenge".

Mereka meminum air garam untuk menunjukkan solidaritas pada tahanan Palestina di penjara Israel yang sedang melakukan mogok makan.

Aksi mogok telah berlangsung selama seminggu. Para tahanan berusaha bertahanan hanya dengan memakan garam dan minum air.

Kampanye "Saltwater challenge" diinisiasi oleh Arab Barghouti, putra dari tokoh tahanan Palestina Marwan Barghouthi yang menjadi pemimpin mogok makan.

"Ayah saya, bersama dengan 1.700 tahanan politik lainnya, memulai 'Mogok Makan untuk Kebebasan dan Kemasyhuran' mereka menuntut hak dasar dan kondisi penjara yang lebih manusiawi", ujar Barghouti junior.

Video tantangan beredar luas di kalangan orang-orang Palestina dan Arab, bahkan mendapat partisipasi dari sejumlah tokoh masyarakat.

Tagar #saltwaterchallenge di Twitter menjadi viral di media sosial baik dalam bahasa Arab maupun Inggris.

Ia juga mengajukan tantangan ini kepada selebriti "Arab Idol" Mohammad Assaf. Tantangan diterima oleh Assaf dan seketika meningkatkan kampanye.

Menurut perhitungan Palestina, Israel saat ini menahan lebih dari 6.500 warga Palestina, termasuk 57 perempuan dan 300 anak, di 24 penjara dan pusat penahanan. (Anadolu Agency)
Kepala OPCW Ahmet Uzumcu (Arab News)
Para ahli dari badan pengawas dunia melaporkan senjata kimia telah digunakan 45 kali di Suriah, sejak akhir tahun lalu.

Kepala OPCW Ahmet Uzumcu pada jumat (28/4) mengatakan, daftar tuduhan penggunaan senjata kimia sudah dilaporkan ke pusat operasi organisasinya.

"Pada akhir 2016, terdapat 30 insiden berbeda, dan awal tahun ini ada 15 insiden terpisah, jadi totalnya 45", ujarnya.

Penggunaan bahan kimia ini termasuk serangan gas Sarin 4 April lalu di kota Khan Syeikhun.

Menurut Uzumcu, laporan dicatat para ahli yang mengikuti kasus dari pusat operasi.

"Ini bisa berbahaya. Rezim Suriah memiliki cukup waktu menghapus jejak (dari serangan kimia). Mereka akan punya waktu melakukannya sampai pengawas tiba di Suriah", ujar Hamdan al-Shehri, analis politik dan pakar hubungan internasional.

OPCW saat ini berusaha memastikan keamanan lapangan untuk mengirim tim pencari fakta ke TKP.

"Rezim Basyar Assad telah bersedia mendukung misi dan mengundang kami datang lewat Damaskus. Masalahnya, TKP-nya dikendalikan kelompok oposisi bersenjata, jadi kami perlu melakukan kesepakatan dengan mereka agar memastikan gencatan senjata sementara", tambahnya.

Uzumcu mengatakan tim dan relawannya sudah sudah siap berangkat. (Arab News).
Ilustrasi (AlJazeera)
Otoritas Palestina (PA) mengumumkan pada Israel bahwa mereka akan menghentikan pembayaran persediaan listrik Israel untuk Gaza.

Pemadaman listrik seperti itu dinilai dapat memperdalam krisis kemanusiaan, menurut Bank Dunia.

Selain dapat menyebabkan pemadaman listrik total di Gaza yang dipimpin Hamas, langkah ini juga akan mengganggu layanan medis dan persediaan air bagi dua juta penduduk disana.

COGAT, cabang militer Israel, menyebut pengumuman ini diberikan oleh pemerintah Presiden Mahmoud Abbas, Kamis (27/4).

Abbas mengancam akan memberikan tekanan finansial pada Hamas agar ia dapat menguasai Gaza. Wilayah ini diambil Hamas pada 2007 setelah terjadi perang singkat.

Tak jarang, upaya rekonsiliasi dilakukan antara pemerintah Tepi Barat dan Gaza, namun sayangnya selalu gagal.

Pejabat Hamas Ismail Radwan bereaksi dengan nada emosi.

"Pengepungan Gaza ini tidak masuk akal, mengurangi pasokan listrik, air dan kebutuhan dasar demi politik", ujarnya.

Terkait kebijakan ini, PA enggan memberi alasan. Mereka telah memberi tekanan pada Hamas dengan menahan bahan bakar dari Israel dua minggu lalu yang dibutuhkan pembangkit listrik satu-satunya di Gaza.

PA juga memotong gaji PNS di Gaza yang menjadi salah satu andalan utama ekonomi di daerah itu.

Sebenarnya, Israel lebih memilih berurusan dengan PA mengenai pasokan listrik dan bahan bakar di Gaza karena malas terlibat dengan Hamas, yang dianggap sebagai organisasi "teroris".

Bank Dunia menilai pemadaman listrik ini dapat memengaruhi layanan vital seperti rumah sakit, klinik, persediaan air, dan kehidupan rumah tangga sehari-hari.

"Selama musim panas dan musim dingin, pasokan listrik dijatah hanya empat jam di siang hari," menurut sebuah laporan, mengutip direktur Tepi Barat dan Gaza, Marina Wes.

"Ini telah menciptakan krisis kemanusiaan bagi dua juta orang di Gaza."

"Kami sangat khawatir," ujar Samir Zaqout dari kelompok HAM Al Mezan. "Kebijakan ini menghukum semua orang, bukan hanya Hamas. Apa tujuannya? Kami tidak mengerti."

Pejabat kesehatan mengatakan, terdapat 13 rumah sakit di Jalur Gaza dan 54 pusat kesehatan yang kekurangan dana serta bahan bakar pembangkit listrik.

Sekitar 620 pasien ginjal membutuhkan dialisis tiga kali seminggu dan bayi yang baru lahir juga akan terkena resiko pemadaman listrik. Generator di semua fasilitas medis membutuhkan sekitar 2.000 liter bahan bakar per jam. (Al-Jazeera)
Paus Fransiskus (Reuters)
Paus Fransiskus tiba di Kairo, Mesir, pada Jumat (28/4), untuk memperbaiki hubungan dengan para pemimpin agama Islam, sehubungan dengan ancaman yang dihadapi Komunitas Kristen Mesir dari militan ISIS.

Dalam sebuah pidato kepada warga Mesir minggu ini, Francis berharap kunjungannya akan membawa perdamaian dan mendorong dialog serta rekonsiliasi dengan dunia Islam.

Ini adalah saat yang berat bagi Koptik Mesir, komunitas Kristen terbesar di Timur Tengah. Tiga minggu lalu, serangan bom bunuh diri ISIS di dua gereja membunuh 45 jamaah.

Pemboman katedral sebelumnya juga menewaskan 28 orang pada bulan Desember. Ancaman ini membuat ratusan orang Kristen melarikan diri dari Sinai Utara, tempat utama kelompok tersebut.

"Setelah semua rasa sakit yang kita alami ... kami yakin bahwa negara mengambil langkah-langkah keamanan yang kuat untuk mencegah terorisme dan melindungi gereja-gereja," ujar Pastor Boulos Halim, juru bicara gereja Ortodoks Koptik.

Paus akan bertemu dengan Presiden Abdel Fattah al-Sisi, Imam Besar al-Azhar Sheikh Ahmed al-Tayeb, Dan Paus Tawadros II, kepala Gereja Ortodoks Koptik yang berhasil lolos dari pemboman gereja Alexandria pada perayaan Minggu Palma.

Ia diharapkan memberi pidato pada konferensi dialog keagamaan di Al-Azhar. Ini adalah upaya memperbaiki hubungan yang diputus oleh Tokoh Islam Mesir 2011 lalu, yang menganggap Paus Benediktus melakukan penghinaan terhadap Islam.

Gabriel Said Reynolds, profesor studi dan teologi Islam di Universitas Notre Dame, menilai kunjungan Paus ke negara Muslim menunjukkan komitmennya memperbaiki hubungan Islam-Kristen. (Reuters)
infografis donor organ di Saudi (Arab News)
Empat juta orang di Arab Saudi telah menjadi pemegang kartu donor organ, jumlah ini sekitar 12,5 persen populasi, menurut kepala Pusat Penyebaran Organ Saudi (SCOT).

Jumlah transplantasi organ meningkat dari 1.036 pada 2015 menjadi 1.082 pada 2016, ujar Dr. Faissal Shaheen, direktur umum SCOT dan konsultan senior medis.

Kartu donor organ adalah tanda kesediaan memberikan organ setelah kematian. Hal ini sebenarnya tidak diwajibkan.

Budaya memiliki kartu donor organ masih belum meluas di Kerajaan Saudi, namun ada upaya meningkatkan kesadaran.

Shaheen mengatakan, organ sehat yang tersedia bagi kebutuhan transplantasi masih kurang.

"SCOT berupaya mencapai swasembada dan memecahkan masalah kekurangan organ, yang merupakan masalah global. Masih banyak yang harus dilakukan untuk mengisi kesenjangan antara permintaan dan persediaan organ", ujar Shaheen.

Kartu donor tersedia di semua pusat kesehatan dan dialisis Kerajaan Saudi. Kartu biasanya disebar pada acara-acara nasional dan acara ilmiah.

Topik ini menjadi ambigu karena alasan agama dan budaya. Shaheen mengatakan, para Ulama memiliki peran penting mendukung sumbangan organ.

Fatwa 1982 oleh Komisi Ulama Senior mengenai sumbangan organ dan transplantasi menekankan bahwa pemindahan organ atau bagian lainnya dari orang mati diperbolehkan, begitu pula menyumbangkannya untuk orang yang masih hidup.

Sejak 1986 hingga 2016, terdapat 13.174 organ ditransplantasikan, termasuk 10.569 ginjal, 2.006 hati, 339 jantung, 213 paru-paru, 46 pankreas dan satu usus kecil.

Selain itu, 1.767 jaringan berhasil dipulihkan, termasuk 628 jantung sebagai sumber katup, 698 kornea, 324 tulang dan 117 jaringan muskuloskeletal. (Arabnews)