Ilustrasi kekerasan di Afrika Tengah
Pemberontak anti-Balaka yang beragama Kristen membantai setidaknya 25 Muslim di Republik Afrika Tengah.

Serangan biadab ini terjadi di sebuah masjid di kota Kembe, selatan negeri.

Milisi mengepung dan menyerbu Masjid Djimbi pada Rabu Shubuh, ungkap Abdouraman Bornou, tokoh masyarakat wilayah Kembe, Jum'at (13/10).

Selama serangan, imam masjid dan wakilnya langsung dieksekusi, kata Bornou.

Ousman Mahamat, pemimpin komunitas Muslim, menyatakan kemarahannya atas perilaku orang-orang di negeri itu yang menyulut kebencian SARA.

"Kami perlu meningkatkan kewaspadaan. (Bangsa) Kami telah saling membunuh, dalam perang ini tidak ada yang menang atau kalah", katanya.

"Apa yang baru saja terjadi di (masjid) Djimbi sangat menyakitkan',' katanya.

Sementara itu pemerintah setempat menetapkan tiga hari berkabung di kota tersebut.

Afrika Tengah adalah negara yang kaya berlia, namun rakyatnya menderita kemiskinan dan diperparah oleh krisis sejak akhir 2012, dimana terjadi kekerasan antara kelompok bersenjata Muslim dan Kristen.

Setelah relatif tenang pad 2016, pertempuran kembali meletus pada awal 2017 di berbagai kota di penjuru negeri, meski telah ditempatkan pasukan internasional

Ribuan orang tewas dalam konflik agama sejak 2013, sementara ribuan warga mengungsi untuk mencari perlindungan di negara-negara tetangga, termasuk Kamerun dan Chad.

Dalam sebuah laporan, Amnesty International memperkirakan jumlah korban lebih dari 5.000 orang, kebanyakan dari mereka adalah warga sipil.

Konflik meletus ketika Muslim Seleka berhasil menggulingkan Presiden Francois Bozize, seorang penganut Kristen yang berkuasa lewat kudeta pada 2003.

Konflik sengit berlanjut antara Muslim Seleka dan pemberontak anti-Balaka yang Kristen. (DailySabah)
ARSA kelompok perlawanan Rohingya
Kelompok bersenjata Pasukan Penyelamat Rohingya Arakan (ARSA) membantah tudingan pemerintah Myanmar terkait pembunuhan massal di Rakhine.

Tuduhan muncul setelah tentara Myanmar menemukan kuburan massal yang diduga berisi sekitar 100 jasad warga Hindu di Rakhine, pekan lalu.

Dalam pernyataan resmi pasca tuduhan itu, ARSA juga membantah kelompoknya memicu krisis kemanusiaan yang diperkirakan telah menewaskan 1.000 orang sejak akhir Agustus lalu.

"ARSA secara mentah membantah bahwa anggota kami melakukan pembunuhan, kekerasan seksual, atau rekrutmen paksa di Rakhine pada 25 Agustus lalu", kata ARSA melalui akun Twitter, Kamis (28/9).

Mereka meminta Myanmar berhenti menjadikan kelompoknya sebagai kambing hitam atas kekerasan belakangan. ARSA juga mendesak pemerintah membuka akses penyelidikan terhadap dugaan pelanggaran HAM.

"Rezim militer dan pemerintah Myanmar harus berhenti menyalahkan (ARSA)", lanjut kelompok ini.

"ARSA akan melakukan penyelidikan menyeluruh dan mengeluarkan pernyataan rinci dari waktu ke waktu sehubungan dengan kejahatan perang dan genosida serta pembersihan etnis yang tengah dilakukan rezim militer brutal Myanmar terhadap warga Arakan (Rohingya)", kicau ARSA.

Selama ini, pemerintah Myanmar menuding ARSA sebagai dalang di balik kekerasan dan krisis kemanusiaan sejak akhir Agustus lalu.

Serangan kelompok bersenjata terhadap sejumlah pos polisi pada 25 Agustus di Rakhine dijadikan alasan militer melakukan operasi pembersihan di wilayah itu.

Serangan saat itu beralasan untuk melawan militer Myanmar dan paramiliter Buddha yang melakukan penyisiran di Maungdaw.

Bukannya menangkap pelaku dan mengungkap kasus penyerangan, militer Myanmar diduga menyiksa, membunuh, hingga membakar desa-desa Rohingya di Rakhine.

Sekitar 400 ribu warga sipil Rohingya lari ke Bangladesh sejak akhir Agustus lalu. (CNN Indonesia)
Tentara China di Xinjiang (AFP foto)
Pihak berwenang Xinjiang, China, meminta masyarakat etnis minoritas menyerahkan barang-barang keagamaan.

Kaum minoritas sebagian besar merupakan Muslim dari etnis Uighur, Muslim Kazakh dan Kyrgyz.

Para pejabat mengancam hukuman berat jika barang-barang keagamaan ditemukan kemudian hari, dilansir dari Radio Free Asia.

Pejabat di tingkat desa, kabupaten, dan kota menyita semua Qur'an dan sajadah untuk shalat", ujar seorang sumber di prefektur Altay, dekat perbatasan Kazakhstan, Rabu (27/9)

Dilxat Raxit, juru bicara Kongres Uighur Dunia, menyebut penyitaan ini telah terjadi di Kashgar, Hotan dan beberapa wilayah lain.

"Kami menerima berita bahwa etnis Uighur harus menyerahkan barang-barang yang berhubungan dengan Islam dari rumah mereka, termasuk Qur'an dan hal lain yang mengandung simbol agama", ujar Raxit. Termasuk simbol bulan dan bintang yang populer bagi umat Islam.

"Barang-barang harus diserahkan secara sukarela, jika tidak diserahkan dan ditemukan kemudian hari, maka akan ada hukuman keras", jelasnya.

Menurut Raxit, pengumuman juga disebar oleh polisi melalui media sosial WeChat yang popular di sana.

Awal tahun lalu, pihak berwenang Xinjiang mulai menyita Qur'an yang diterbitkan lebih dari lima tahun lalu karena dianggap memiliki "kandungan ekstremis".

Al-Qura'n menjadi salah satu bagian kampanye "Three Illegal and One Item" yang sedang berlangsung di Xinjiang.

Kampanye ini melarang materi publikasi, kegiatan keagamaan, dan pengajaran agama "ilegal".

Pihak otoritas pun menyasar barang-barang yang dianggap sebagai alat terorisme, seperti pisau, benda yang mudah terbakar, mainan kendali jarak jauh, dan benda-benda bersimbol Islam.

Seorang sumber asal Kazakh mengaku, penyitaan pertama Qur'an dan barang-barang keagamaan lainnya tidak berjalan efektif, sehingga pihak berwenang meningkatkan tekanan ke tiap rumah tangga dengan menjadikannya program wajib.

Penyitaan ini menargetkan etnis Uighur dan diperluas ke populasi etnis Kazakh.

Saat ini, setiap produk dari negara Kazakhstan, atau yang memiliki bahasa serta simbol Kazakh juga dilarang, menurut beberapa sumber.

Informasi ini “bocor” dari kepolisian prefektur Changji.

"Setiap barang yang memuat tulisan atau jejak Kazakhstan lainnya, termasuk rambu jalan, grafiti, hiasan toko, barang seni, kerajinan, kaos dan sebagainya harus segera diselidiki. dan laporan terperinci dibuat ke otoritas yang lebih tinggi pada tanggal 25 September", menurut sebuah pemberitahuan.

"Ada pembatasan penjualan produk dan bahan makanan dari Kazakhstan, termasuk mie, produk organik dan susu kuda", ujar sumber
Kazakh lain.

"Mereka (red: otoritas China) tidak akan membiarkan penjualan barang-barang dari Kazakhstan."

Belum ada konfirmasi resmi dari polisi Altay mengenai laporan tersebut.

Pemerintah China juga mengeluarkan perintah pada warga Kazakh di beberapa bagian Xinjiang agar menyerahkan paspor dan kartu hijau mereka.

Puluhan warga Kazakh ditahan, termasuk yang baru kembali dari studi di luar negeri atau kunjungan keluarga ke Kazakhstan. Mereka dikirim untuk "re-edukasi" (karantina) dalam jangka waktu yang tidak terbatas, menurut sumber.

Terdapat sekitar 1,5 juta orang etnis Kazakh di China, Mayoritas terkonsentrasi di dan sekitar Prefektur Otonomi Kazakhstan dekat perbatasan Kazakhstan.

China sebelumnya menyambut orang-orang Kazakh yang ingin pindah dari negaranya, dengan jumlah mencapai 38.000 jiwa pada 2006
.

China membantah
Sementara itu otoritas Komunis Beijing membantah laporan sweeping Al-Qur'an, dan menyebutnya "rumor tanpa dasar".

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lu Kang kepada wartawan mengatakan bahwa situasi di Xinjiang "normal" dimana "warga bekerja dan hidup dengan damai".

"Kami berharap pihak-pihak terkait menahan diri agar tidak membuat tuduhan dan rumor tanpa dasar", katanya.

Meski demikian, kondisi Xinjiang masih diterapkan keamanan secara ketat sejak tahun lalu.
Massa dipimpin para biksu merusak tempat penampungan Rohingya
Biksu radikal Sri Lanka dan nasionalis garis keras memaksa pergi 31 pengungsi Muslim Rohingya. Mereka tengah ditampung sebuah rumah tampung milik PBB di ibukota Kolombo, Selasa (26/9).

Para pengungsi, tertangkap April lalu bersama dua tersangka penyelundup India dalam sebuah kapal di perairan Sri Lanka.

Mereka dibawa ke tahanan dan kemudian dikarantina ke pusat penahanan di luar kota Kolombo, menurut juru bicara polisi Ruwan Gunasekara.

Sementara serbuan yang dilakukan massa Buddha dipicu oleh sikap anti Rohingya dan rasa solidaritas dengan Buddha Myanmar.

Sebuah siaran langsung di halaman Facebook 'Sinhale Jathika Balamuluwa', kelompok Buddha nasionalis, memperlihatkan para biksu dan ratusan massa menyerbu rumah tampung sambil bernyanyi yel-yel: "jangan biarkan teroris masuk ke negara ini"

"Orang-orang Rohingya ini adalah kelompok teroris. Mereka telah membantai biksu Buddha kita di Myanmar", ujar Akmeemana Dayarathne dalam orasinya, seorang biksu yang memimpin demonstrasi.

Video live menunjukkan massa Buddha melempari rumah penampungan dengan batu.

"Pergi kalian dari negara ini", ujar seorang laki-laki yang ikut menyerbu, meminta Rohingya tak menginjakkan kakinya ke Sri Lanka.

Kelompok pengungsi ini melarikan diri dari Myanmar tahun 2012 dan mencapai India sebagai pengungsi selama lima tahun.

Mereka mencoba bermigrasi secara ilegal ke negara lain namun akhirnya tertangkap di perairan Sri Lanka, dikutip oleh sumber Reuters.

Pengadilan setempat menyerahkan kasus ke Dewan Hak Asasi Manusia PBB (UNHRC). Sejauh ini pejabat UNHCR belum memberikan komentar. (Reuters/Facebook)
Pendemo pendukung Aung San Suu Kyi
Warga Buddha Myanmar punya pandangan sendiri terkait krisis kemanusiaan Rohingya baru-baru ini.

Sejumlah pendukung pemimpin de facto Aung San Suu Kyi meluangkan waktu khusus untuk menyimak pidato mantan aktivis demokrasi Myanmar itu.

Hari itu, Selasa (19/4), warga memberikan dukungan pada Suu Kyi yang tengah jadi sorotan internasional akibat kekerasan di negara bagian Rakhine.

Mereka mengenakan kaos bergambar wanita 72 tahun itu, bahkan muncul kampanye mengganti foto profil Facebook dengan gambar Suu Kyi saat dipenjara junta militer.

Demo pendukung Suu Kyi

PNS 57 tahun, Khin Maung Maung, menyalahkan media internasional atas pemberitaan krisis Rohingya. Menurut Maung, media "memberikan informasi yang salah" terkait krisis di Rakhine.

Ia menuduh media internasional berfokus pada kelompok minoritas seperti Rohingya yang dianggap Myanmar sebagai imigran ilegal 'Bengali', tapi "mengabaikan penderitaan Buddha Rakhine", sebagai agama mayoritas.

Kebanyakan warga Myanmar berpendapat bahwa operasi militer di Rakhine adalah untuk "menangkal serangan militan", bukan pembersihan etnis.

Namun, sejak 25 Agustus, Al-Jazeera mencatat terdapat 420 ribu pengungsi Rohingya yang lari dari Myanmar untuk masuk Bangladesh. Sejumlah kekerasan atau serangan langsung militer Myanmar dilaporkan mengarah ke rombongan pengungsi.

Seorang bekas penduduk Rakhine, Tin Win, percaya bahwa isu kenaikan populasi Muslim di sana merupakan ancaman untuk Myanmar.

Warga Myanmar, Tin Win, berpendapat tentang Rohingya. Mirip dengan pendapat mainstream Buddha nasionalis
Pekerja di perusahaan air itu pernah tinggal di Sittwe, ibukota negara bagian Rakhine, selama lebih dari dua tahun.

Ia menggambarkan populasi Buddha terancam oleh Muslim.

"Mereka berkembang. Mereka menghasilkan begitu banyak anak, begitu banyak anak", ujarnya, dikutip CNN.

Tin tidak mempermasalahkan kamp isolasi bagi sekitar 120.000 orang Rohingya. Dimana mereka dipaksa tinggal di tempat yang ditentukan Myanmar dengan alasan keamanan.

Ia juga mengaku tak pernah mengunjungi kamp Rohingya, karena diberitahu "mereka terlalu berbahaya bagi orang luar".

"Mereka bisa pergi dari kamp, bukan masalah, mereka datang ke rumah sakit umum, mereka bisa datang berbelanja di pasar", kata Tin tentang aktivitas Rohingya di kamp.

Sekitar 90% populasi Myanmar adalah pemeluk agama Buddha, sementara gagasan Islam ancaman bagi Buddhisme telah lazim, menurut laporan International Crisis Group.

Gagasan ini sering muncul dalam publikasi massal, bahkan muncul lewat ceramah tokoh biksu populer.

Selain Rohingya, Myanmar juga dihuni komunitas Muslim lain. Tahun lalu, sejumlah tindakan intoleran dilakukan kalangan Buddha radikal, seperti serangan terhadap masjid dan penutupan madrasah secara paksa.

Desember lalu, Suu Kyi mengklaim permasalahan Rakhine lebih rumit dari yang diketahui dan mengakui adanya masalah penyusutan populasi Buddha di Rakhine.

Menurutnya, konflik tidak hanya soal etnis minoritas Rohingya, tapi ada isu-isu sensitif dari etnis Buddha di Rakhine yang merasa khawatir dengan eksistensinya.

"Bukan hanya Muslim yang khawatir. Warga Rakhine juga khawatir mengenai fakta bahwa persentase populasi mereka terus menyusut. Tentunya kita tak bisa mengabaikan fakta bahwa hubungan kedua komunitas tidaklah baik dan kami mencoba memperbaikinya", kata Suu Kyi dalam sebuah wawancara dengan media Singapura. (CNN/Al-Jazeera/rslh)
Presiden Turki, Recep Erdogan
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menegaskan bangsanya tak akan meninggalkan Muslim Rohingya yang tertindas dalam konflik vertikal dan horizontal di Myanmar.

"Rohingya tak boleh ditinggalkan sendiri!", ujarnya, dikutip DailySabah.

Berbicara di acara Hari Kemenangan di Istana Kepresidenan Beştepe Ankara, Erdoğan menggarisbawahi bahwa Turki siap memberi lebih banyak bantuan kemanusiaan untuk Rohingya. Ia juga meminta masyarakat internasional melakukannya.

Sebelumnya Erdogan telah mendesak PBB untuk menekan Myanmar terkait perlakuan pada Rohingya.

Dalam seminggu terakhir, dilaporkan 110 Muslim Rohingya terbunuh dalam kekerasan, baik sipil maupun anggota pejuang, akibat bentrok dengan pasukan Myanmar maupun paramiliternya.

Sementara itu, sekitar 18.000 orang melarikan diri dari penganiayaan menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).

Kekerasan terbaru dimulai beberapa pekan lalu. Sejumlah aktivis Rohingya melaporkan adanya upaya pengepungan dan penyisiran ke desa-desa Rohingya di Rathedaung oleh pasukan keamanan dan milisi Buddha Rakhine. Menyebabkan warga desa kelaparan atau terusir.

Rekaman foto dan video korban Rohingya telah beredar sebelum Kamis (24/8).

Hal ini memicu serangan kelompok pejuang Rohingya yang menamakan dirinya ARSA ke puluhan pos keamanan Myanmar di Maungdaw, Jum'at (25/8) dinihari.

Kekerasan oleh militer Myanmar kemudian meluas dan menyebabkan krisis pengungsi baru.

Pemerintah Myanmar beralasan, ribuan pemuda "Bengali" (sebutan kasar untuk etnis Rohingnya), telah menjadi "radikal".

Rohingya tidak diakui oleh Myanmar, mereka telah mengalami penindasan selama puluhan tahun. Tak memiliki hak mengakses pendidikan, kesehatan hingga ditempatkan ke kamp-kamp kumuh dengan alasan keamanan, atau "mencegah konflik horizontal" dengan Buddha Rakhine sejak 2012. (DailySabah/AA/Arakannews/rslh)
Seorang tetua Rohingya terluka
Ribuan warga Muslim Rohingya berupaya menyeberang ke wilayah Bangladesh menyusul kekerasan yang terjadi Maungdaw, Rakhine, Myanmar, ungkap seorang pejabat keamanan perbatasan Bangladesh.

Sabtu (27/8), ada 3000 orang tiba di sungai Naf yang memisahkan Myanmar-Bangladesh, menurut Manzurul Hassan Khan, komandan penjaga perbatasan Bangladesh.

"Sekitar 500 warga Rohingya, kebanyakan wanita dan anak-anak, menghabiskan malam terakhirnya di daerah berawa untuk menunggu menyeberang", kata Khan.

"Kami menjaga mereka sepanjang malam. Hari ini mereka kembali", ujarnya.

Menurut Khan, pengungsi bersembunyi di rawa untuk menghindari penembakan di perbatasan oleh militer Myanmar.

Sayangnya pemerintah Bangladesh tidak membiarkan mereka masuk dan didorong kembali ke arah Myanmar. Kementerian Luar Negeri, Sabtu, mengatakan kekhawatiran ribuan "warga Myanmar tidak bersenjata" berkumpul di dekat perbatasan untuk memasuki negara itu.

Warga Rohingya terlihat berjongkok di rawa-rawa, atau bersembunyi di semak-semak menghindari penjaga perbatasan.

"Kami berhasil selamat dari tembakan Myanmar dan mencoba memasuki Bangladesh", kata Hamid Hossain (42), yang menyeberang ke Bangladesh bersama rombongan 3 keluarga.

"Kami menunggu semalaman setelah ditolak oleh penjaga perbatasan Bangladesh tadi malam. Pagi ini, kami terus berusaha masuk entah bagaimana caranya", ujarnya.

Sekelompok orang tampak berjalan berbaris. Mereka difoto dari kejauhan dengan latar belakang kehijauan dan rawa.

Pemandangan menyedihkan pengungsi Rohingya
Sementara itu, Myanmar bersikeras menyalahkan serangan "teroris Bengali" (sebutan bagi kelompok pejuang Rohingya yang melawan pemerintah), yang terjadi Jum'at dini hari.

Namun, laporan lain menyebut Myanmar bertindak brutal dengan menyerang warga sipil yang melarikan diri.

Di dekat desa perbatasan Gumdhum, suara tembakan senjata terdengar dari arah Myanmar.

Seorang reporter kantor berita AFP menghitung belasan ledakan mortir dan muntahan senapan mesin dari pasukan Myanmar ke arah sekelompok besar warga Rohingya yang berusaha menyeberang.

Belum ada laporan mengenai jumlah korban akibat kejadian itu.

"Mereka telah menembaki warga sipil, kebanyakan wanita dan anak-anak, bersembunyi di perbukitan di dekat perbatasan", ungkap Khan mengkonfirmasi.

"Mereka menembakkan senapan mesin dan peluru mortir tiba-tiba, menarget warga sipil, mereka tidak berkonsultasi dengan BGB (penjaga perbatasan Bangladesh)", tambahnya.

Anita Schug dari Dewan Rohingya Eropa, menyatakan organisasinya dapat memverifikasi laporan tersebut.

"Kami memiliki video dari lapangan dan kami dapat membagikannya jika diminta mengonfirmasikan kebenaran berita", katanya kepada Al-Jazeera.

"Militer Myanmar bersama ekstremis Rakhine (Buddha) yang dipersenjatai dengan pisau, pedang, parang dan senjata menyerang warga sipil Rohingya tak bersalah, tanpa senjata untuk membela diri", kecamnya. (ABC/Al-Jazeera)
Negara bagian Rakhine/Arakan jadi lokasi pelanggaran HAM terhadap Rohingya
Sekelompok pemuda Rohingya bersenjatakan parang melakukan serangan mendadak terhadap 24 pos polisi dan 1 basis tentara perbatasan Myanmar di negara bagian Rakhine yang berbatasan dengan Bangladesh.

Peristiwa ini terjadi pada Jum'at dini hari.

Menurut sumber pemerintah, sebanyak 5 polisi tewas bersama 7 orang penyerang.

Myanmar mengklaim pasukannya memberi perlawanan balik dan menewaskan "para teroris", sebutan bagi semua milisi perlawanan Rohingya yang terlibat kekerasan dengan pasukan Myanmar.

Pemerintah juga menuduh para penyerang telah memiliki senjata api.

Belum ada laporan kelompok mana yang mengorganisasikan serangan. Namun peristiwa ini dikhawatirkan memunculkan operasi militer yang melanggar HAM.

April lalu sempat muncul sebuah gerakan bernama Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA), yang dipimpin oleh Atta Ullah. Mengklaim serangan di perbatasan.

Fokusnya saat ini adalah membela hak-hak warga Rohingya, yang menghadapi penganiayaan dari mayoritas dan pemerintah.

"Kami akan merebut hak-hak kami. Kami akan bertarung melawan pemerintah militer yang kejam", tegasnya.


Myanmar menuduh ARSA disokong dari Arab Saudi, dimana banyak diaspora Rohingya.

Namun, Ata Ullah membantah kelompoknya terkait militan lain atau mendapat dukungan dari luar.

"Kami tidak memiliki kelompok yang membantu kami dari belakang, apakah di sini atau di luar negeri. Kami bertahan di sini hanya dengan menjual Sapi dan Kerbau", katanya.

Negara bagian Rakhine menjadi lokasi kekerasan horizontal dan vertikan.

Etnis minoritas Rohingya terlibat konflik dengan etnis Buddha Rakhine. Selain itu, pasukan militer Myanmar diduga melakukan upaya pembersihan etnis terhadap Rohingya.

Wilayah Rakhine relatif miskin, selama bertahun-tahun kelompok Buddha lokal kurang harmonis dengan pemerintah pusat. Namun mereka sepakat bahwa Rohingya bukan bagian dari negara bagian.

Kondisi ini memperparah kehidupan Rohingya yang dianggap imigran ilegal "Bengali".

Dengan alasan operasi keamanan pasca serangan pos polisi perbatasan Oktober tahun lalu, militer Myanmar disebut melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan. (CNN)
Demonstrasi di Rakhine
Massa relijius Buddha Myanmar
 Kepolisian mengatakan unjuk rasa, yang diikuti oleh para biksu dan warga dari etnik Rakhine itu, diadakan di setidaknya 15 kota, termasuk di ibu kota negara bagian Rakhine, Sittwe pada Minggu (13/08).

"Protes berjalan damai hari ini," kata pejabat kepolisian Mayor Cho Lwin, sebagaimana dilaporkan kantor berita Reuters.

Para pemrotes menuduh PBB dan badan-badan bantuan internasional lainnya membela kelompok Muslim Rohingya sehingga mereka harus segera meninggalkan Rakhine, negara bagian yang juga ditempati oleh Rohingya.

Etnik mayoritas Rakhine, yang pada umumnya beragama Buddha, telah lama menuduh PBB dan badan-badan bantuan lainnya memprioritaskan Rohingya dalam pemberian bantuan.

Rohingya tidak diakui sebagai warga negara Myanmar tetapi digolongkan sebagai pendatang dari Bangladesh walaupun mereka secara turun temurun telah berada di Rakhine.

Oleh pemerintah Myanmar maupun oleh masyarakat di negara itu pada umumnya, Rohingya dipanggil dengan sebutan orang-orang Bengali atau orang Muslim, tidak pernah digunakan sebutan Rohingya.

Para pengunjuk rasa juga menuntut pembentukan tentara sipil bersenjata di Rakhine sebagai bentuk bela diri bagi etnik mayoritas Rakhine.

Ketegangan di Rakhine kembali memanas belakangan ini setelah tujuh warga Buddha ditemukan diparang hingga meninggal dunia di kawasan pegunungan pada Juli lalu.

Pihak berwenang mengaku telah menemukan perkemahan-perkemahan di pegunungan May Yu yang menunjukkan keterlibatan "orang-orang ekstremis" dalam pembunuhan itu.

Di satu lokasi yang diduga sebagai kamp militan, bulan lalu ditemukan biskuit yang berasal dari bantuan Program Pangan Dunia (WFP).

Militer mengirimkan pasukan tambahan ke Rakhine pekan lalu. (BBC Indonesia)
Tubuh Bilal sempat terkena luka bakar akut, lalu sembuh, sebelum akhirnya gugur pada 2015
Inilah kisah karomah, atau hal luar biasa di masa perjuangan almarhum Abu Muhammad Bilal yang telah gugur dalam pertempuran Jabal al-Akrad, Latakia.

Seorang pemuda ksatria berusia 28 tahun. Walaupun berstatus komandan militer, ia memperhatikan nasib warga sipil. Grup tempurnya menjamin keamanan kegiatan kemanusiaan di sekitar Jabal al-Akrad.

Meski masih muda ia adalah pimpinan sebuah grup pejuang FSA, brigade mujahidin 'Katibah asy-asyahid Usamah Mahau'.

Nama katibah ini diambil dari saudaranya yang gugur pada awal gerakan perlawanan suku-suku Sunni di Jabal Akrad, Latakia.

Bilal Mahau
Warga sipil Ahlusunnah di Latakia utara menikmati keramahan grup tempur di bawahnya. Di luar masa perang, personil FSA Bilal seperti menjadi 'orang biasa' dan membantu sejumlah urusan warga sipil.

Dengan pangkat sebagai pimpinan tertinggi sebuah brigade, tak diragukan lagi komitmennya dalam bertempur melawan loyalis rezim di garis depan daerah perbukitan.

Ia mahir menggunakan senjata ringan hingga peralatan berat. Abu Muhammad, begitu ia dikenal, adalah seorang qannash/sniper, operator senjata anti tank, serta pelontar roket yang handal.

Bilal sangat Islami, anak buahnya terus digembleng dengan ilmu agama agar memperhatikan adab-adab peperangan dan agar perjuangan mereka bernilai jihad.

Suatu ketika, kota Kasab yang sebelumnya dibebaskan para pejuang di pertempuran al-Anfal direbut lagi oleh kubu rezim. Di saat yang sama, tentara rezim melakukan pergerakan melalui gunung nabi Yunus.

Latakia utara diincar oleh rezim Assad karena hanya tinggal daerah itu yang dikuasai oposisi. Dimana pada dasarnya provinsi ini adalah basis Syi'ah Nushairiyah.

Suasana sangat mencemaskan hari demi hari. Karena jumlah pasukan pro rezim sangat banyak. Termasuk milisi Syi'ah Rafidhah yang datang dari Iran dan munculnya tentara bayaran Rusia.

Kekhawatiran berlalu segera karena pertolongan Allah diberikan untuk pejuang Islam, 2 tank hancur dan puluhan tentara rezim tewas.

Rutinitas pertempuran terus berlanjut. Agar menambah daya gedor serangan Bilal bersama beberapa prajuritnya menyusup mendekati tempat musuh di gunung nabi Yunus.

Mereka membekali diri dengan roket Jahanam dan mortar.

Roket Jahanam merupakan senjata rumahan buatan pejuang Sunni menggunakan tabung gas yang diisi TNT, mempunyai daya ledak hampir setara bom birmil rezim Assad.

Bermula dari roket yang dilontarkan. Baru setengah serangan, tanpa disadari ada percikan api membakar ilalang kering, api menjalar menuju tempat roket tersisa.

Terjadilah peristiwa yang tidak diinginkan karena nyala api menyambar sisa roket Jahanam dan mortar.

Semua meledak hampir bersamaan menimbulkan ledakkan dahsyat bersahutan.

Tanah bergoncang keras saking kuatnya ledakkan, api berpijar ke arah sang komandan membakar seluruh tubuh dan yang paling parah adalah wajahnya karena ia melihat ke arah api ledakan. Bilal tumbang tak sadarkan diri.

Di sinilah keajaiban dialami sang komandan. Prajuritnya segera mengevakuasi ke rumah sakit yang ada. Ya, ia masih hidup setelah 5 roket jahannam dan 5 mortar meledak tepat di hidungnya.

Padahal, sebuah roket saja cukup menghancurkan bangunan berlantai tiga!

Untungnya lagi, roket yang hendak diluncurkannya tidak ikut meledak. Sekiranya terjadi, hampir pasti tubuh Bilal tercincang tanpa bentuk. Namun sungguh Allah masih menyayanginya.

Selepas insiden, ia menderita luka bakar sangat parah di sekujur tubuhnya, terutama bagian wajah.

Namun ajaibnya hanya berselang beberapa minggu keadaan Bilal membaik. Bahkan betul-betul pulih. Membuatnya kembali memimpim pasukan di garis depan pertempuran tanpa henti di gunung Latakia. Konflik yang berbalut antara permusuhan sektarian dan pemerintah diktator.

Suku Alawite (Nushairy) memihak Assad, sementara umat Islam (Sunni) menginginkan kebebasan atau digantinya rezim.

Bagi orang-orang seperti Bilal dan kombatan Latakia lain, perang bukan sekedar motif ideologi, tapi juga hak mempertahankan tanah dan kehormatan. Karena militer Assad menciptakan sebuah pembersihan etnis di Jabal Akrad, dengan tujuan perubahan demografi.

Hari bahagia berlangsung bagi sang komandan, Bilal akhirnya menikah dengan kakak perempuan salah satu anak buahnya.

Sementara semua orang takjub atas kesembuhannya, wajah rupawannya kembali seakan tidak pernah terbakar bom.

Tapi ketentuan takdir berlaku pada siapapun. Jika sebelumnya Bilal selamat dari 10 ledakkan roket, berikutnya ia gugur akibat hantaman roket musuh.

Kebahagiaan pernikahan Bilal berakhir cepat, namun (Insya Allah) ia terpilih sebagai syuhada.

FSA Bilal Mahau adalah gerakan oposisi Islamis-Nasionalis. Dianggap sebagai grup tempur moderat oleh berbagai negara dan mendapat pengakuan karena terlibat pembicaraan politik yang disponsori PBB.

Bahkan pernah terjadi ketegangan antara pejuang Sunni lokal dengan kelompok militan asal Irak yang merangsek ke Latakia.

Militan ultra-ekstrimis tersebut diusir dari Latakia karena meneror warga dan tindakan arogan lain.

~~Dikisahkan oleh jurnalis perang Suriah (2015)~~